fin.co.id - Pemanggilan pemain Timnas Indonesia selalu jadi momen yang ditunggu-tunggu. Setiap kali "Garuda Calling" diumumkan, ada rasa penasaran: siapa yang terpilih, siapa yang kembali, dan siapa yang harus absen. Kali ini, keputusan Patrick Kluivert selaku pelatih kepala dan asistennya, Alex Pastoor, memunculkan banyak tanda tanya sekaligus harapan baru.
Dua nama yang paling banyak dibicarakan adalah Elkan Baggott dan Cyrus Margono. Keduanya sempat diprediksi masuk dalam daftar pemain untuk pemusatan latihan di Bali, apalagi Elkan bahkan sudah berada di sana. Namun kenyataannya, baik Elkan maupun Cyrus tak masuk dalam 32 nama yang dirilis PSSI.
Padahal performa Elkan Baggott musim ini bersama Blackpool menunjukkan progres positif. Ia digambarkan sebagai pemain profesional oleh pelatih klubnya, Steve Bruce, bahkan disebut-sebut sebagai bek masa depan yang menjanjikan. Cyrus Margono pun sempat mendapat perhatian dari pelatih kiper baru Timnas Indonesia, Sjoerd Woudenberg, yang terbang langsung ke Kosovo untuk mengamati permainannya secara langsung.
Namun kenyataan berkata lain. Ketimbang Cyrus, nama Reza Arya justru muncul kembali ke dalam skuad. Pemanggilan ini menjadi yang pertama bagi Reza sejak era Shin Tae-yong. Ia datang bukan sekadar pelengkap, tapi untuk bersaing dengan nama-nama seperti Maarten Paes, Emil Audero, hingga Nadeo Argawinata.
Alex Pastoor, Otak di Balik Strategi
Baca Juga
Di tengah dinamika tersebut, kehadiran Alex Pastoor sebagai asisten pelatih membawa dimensi taktik baru untuk tim Garuda. Dikenal sebagai pelatih yang berorientasi pada sistem dan hasil, Pastoor tidak hanya fokus pada nama besar pemain, tapi bagaimana pemain itu bisa menyatu dalam unit permainan yang efektif.
Absennya Elkan Baggott jelas menciptakan kekosongan di lini belakang, terutama dari segi postur dan kemampuan kaki kiri. Tapi Alex Pastoor tak kekurangan opsi. Sandy Walsh bisa menjadi alternatif jika Kevin Diks tak bisa tampil, sementara sektor sayap masih bisa diisi pemain seperti Eliano, Egy Maulana Fikri, atau Yakob Sayuri—yang musim ini mencetak hat-trick, sebuah prestasi langka bagi pemain bertahan.
Dari lini tengah, keberadaan Joey Pelupessy jadi penyeimbang penting untuk memberi ruang gerak lebih bagi Thom Haye. Dengan skema seperti itu, serangan bisa lebih kreatif tanpa mengorbankan pertahanan.
“Kalau bicara total football, maka kita harus melihat siapa lawan kita dan siapa pemain yang kita miliki,” ujar Alex Pastoor. “Saya lebih fokus pada bagaimana memenangkan pertandingan, bukan sekadar formasi. Bahkan formasi defensif pun bisa sangat menyerang, tergantung bagaimana Anda mengeksekusinya.”
Baca Juga
Strategi untuk China dan Jepang
Timnas Indonesia akan menghadapi dua lawan berat: China dan Jepang. Ini bukan laga biasa, melainkan bagian dari babak ketiga Kualifikasi Piala Dunia 2026. Dalam situasi seperti ini, taktik menjadi segalanya.
Alex Pastoor tampaknya tengah menyiapkan pendekatan sepak bola pragmatis dengan tekanan balik cepat (counter pressing), yang menjadi ciri khasnya. Ketika beberapa pemain kunci absen, fleksibilitas sistem jadi kunci. Dan di sinilah keahlian Pastoor diuji.