Bola . 04/06/2025, 17:05 WIB
Penulis : Aries Setianto | Editor : Aries Setianto
fin.co.id - Sepak bola Thailand sedang berada di persimpangan jalan, baru-baru ini, 11 dari 16 klub Liga 1 Thailand mengambil keputusan mengejutkan.
Memisahkan diri dari Federasi Sepak Bola Thailand (FAT) dan membentuk kompetisi baru yang dikelola secara mandiri.
Pertemuan bersejarah ini digelar di Stadion BG Pathum United, dan jika rencana berjalan lancar, liga baru bisa dimulai pada musim 2025/2026.
Langkah ini bukan sekadar pemberontakan biasa, melainkan upaya untuk menciptakan ekosistem sepak bola yang lebih profesional.
Klub-klub besar Thailand ingin mengadopsi model liga Eropa, seperti Premier League di Inggris atau La Liga di Spanyol di mana kompetisi dikelola oleh badan independen, bukan federasi nasional.
Kemandirian Klub
Dengan lepas dari kendali FAT, klub-klub memiliki kebebasan lebih besar dalam mengambil keputusan strategis, mulai dari manajemen liga hingga pembagian pendapatan. Ini bisa mendorong profesionalisme dan daya saing.
Daya Tarik Komersial
Liga yang dikelola secara profesional berpotensi menarik sponsor besar, meningkatkan kualitas pertandingan, dan memperluas pasar global. Jika berhasil, Thailand bisa menjadi tujuan baru bagi pemain dan pelatih berkualitas.
Pengaruh Regional
Kesuksesan liga baru ini bisa menjadi contoh bagi negara Asia Tenggara lain, termasuk Indonesia. Thailand berpeluang menjadi pionir dalam reformasi sepak bola regional.
Kita pernah mengalami dinamika serupa ketika ISL (Indonesia Super League) berdiri terpisah dari PSSI.
Meski penuh kontroversi, era itu justru melahirkan tim-tim kuat seperti Persipura Jayapura dan Sriwijaya FC yang sempat disegani di kancah Asia.
Network:
FinNews.id |
Radarpena.co.id |
IKNPos.id
PT.Portal Indonesia Media