Bola . 07/02/2026, 08:40 WIB
Penulis : Makruf | Editor : Makruf
fin.co.id - Leicester City menghadapi masa sulit tepat sepuluh tahun setelah momen paling gemilang mereka di sepak bola Inggris.
Pada 2 Mei 2016, The Foxes menorehkan sejarah sebagai juara Premier League untuk pertama kalinya dalam 142 tahun eksistensi klub.
Namun, perayaan tersebut kini terancam tergantikan oleh kekhawatiran akan degradasi, menyusul pengurangan enam poin akibat pelanggaran aturan profit dan sustainability (P&S).
Perjalanan Leicester sejak gelar juara Premier League memang penuh dinamika.
Setelah kemenangan bersejarah itu, klub berhasil menjuarai FA Cup pada 2021 dan mengikuti beberapa kompetisi Eropa, termasuk Liga Champions, Liga Europa, dan Conference League.
Namun, kesuksesan ini memicu ambisi yang melebihi kapasitas klub, terutama dalam hal pengeluaran.
Kegagalan dalam menyeimbangkan anggaran dan kontrak pemain membuat Leicester mengalami penurunan drastis.
“Kami mencoba bermain dengan klub-klub besar dan gagal. Itu tidak sesuai model kami, tidak sesuai ukuran klub, dan tidak sesuai anggaran,” kata Lynn Wyeth, ketua Foxes’ Trust.
Selama kampanye 2021-22 dan 2022-23, Leicester menghabiskan lebih dari £100 juta untuk enam pemain baru, sementara total gaji klub membengkak menjadi £206 juta.
Menurut pakar keuangan sepak bola, Kieran Maguire, kontrak pemain yang tidak disertai klausul pengurangan gaji saat degradasi menjadi salah satu kesalahan fatal.
“Mereka memiliki satu musim buruk dan tidak ada mekanisme perlindungan,” ujarnya.
Setelah promosi kembali ke Championship pada 2024, masalah keuangan Leicester tetap mengintai.
Network:
FinNews.id |
Radarpena.co.id |
IKNPos.id
PT.Portal Indonesia Media