fin.co.id - Erling Haaland kembali menunjukkan perannya sebagai sosok krusial bagi Manchester City dalam momen penting perburuan gelar Liga Inggris. Gol penalti pada menit ke-93 saat menghadapi Liverpool memastikan kemenangan dramatis 2-1 dan menjaga tekanan terhadap Arsenal di puncak klasemen. Namun di balik kontribusi itu, Pep Guardiola mengungkap sisi lain dari sang striker: tekanan terbesar datang dari dirinya sendiri.
Guardiola menyatakan bahwa Haaland selalu memasang target tinggi karena merasa bertanggung jawab membantu tim. “Dia tenang, tetapi dia memberi tekanan pada dirinya sendiri. Dia tahu betapa kami membutuhkannya,” ujar pelatih asal Spanyol tersebut.
Tekanan dari Standar yang Terlalu Tinggi
Sejak didatangkan dari Borussia Dortmund pada 2022 dengan nilai transfer sekitar 52,1 juta poundsterling, Haaland langsung mencetak 52 gol di semua kompetisi pada musim debutnya. Ia menjadi bagian penting dalam keberhasilan City meraih treble bersejarah: Liga Inggris, Liga Champions, dan Piala FA.
Musim ini, pemain berusia 25 tahun itu sudah mengoleksi 28 gol di semua ajang dan memimpin daftar top skor Liga Inggris dengan 21 gol dari 25 pertandingan. Namun sebelum laga melawan Liverpool, ia hanya mencetak dua gol dalam 10 laga terakhir. Bagi banyak pemain, statistik tersebut mungkin masih tergolong impresif. Tetapi bagi Haaland, standar yang ia ciptakan sendiri membuat periode itu terasa kurang memuaskan.
Baca Juga
Guardiola memahami situasi tersebut. “Dia tidak ingin meninggalkan tim dalam kekecewaan. Itu adalah atribut besar,” katanya. Menurutnya, lebih baik memiliki pemain yang merasa terbebani ketika gagal mencetak gol dibandingkan pemain yang tidak peduli.
Gol Penentu dan Asa Kejar Arsenal
Penalti di menit akhir ke gawang Liverpool menjadi jawaban atas tekanan tersebut. Selain mencetak gol kemenangan, Haaland juga memberikan assist untuk gol penyeimbang Bernardo Silva. Kontribusi ganda itu memperlihatkan bahwa perannya tidak hanya sebatas pencetak gol, tetapi juga bagian penting dari skema kolektif tim.
Kemenangan tersebut membuat Manchester City tetap berada dalam jalur persaingan gelar dan terus membayangi Arsenal. Dengan jadwal yang masih menyisakan banyak pertandingan, setiap poin menjadi sangat berarti. Guardiola menyadari bahwa performa Haaland bisa menjadi faktor pembeda dalam fase krusial ini.
Ia juga mengingatkan bahwa tantangan terbesar bagi Haaland adalah ekspektasi terhadap rekornya sendiri. “Masalah dengan Erling adalah dia harus menghadapi angka dan ekspektasinya sendiri,” ujar Guardiola. Pesan sang manajer sederhana: jangan terlalu membebani diri, tetap bekerja keras bersama tim, dan hasil akan mengikuti.
Baca Juga
Mentalitas Kompetitif yang Dibutuhkan
Ambisi besar Haaland mencerminkan mentalitas juara yang dibangun Manchester City dalam beberapa musim terakhir. Tekanan internal yang ia rasakan bukanlah kelemahan, melainkan dorongan untuk terus berkembang. Ia disebut “menderita ketika tidak mencetak gol”, tetapi justru dari situ muncul determinasi untuk bangkit.
Dalam perburuan gelar yang ketat, karakter seperti ini menjadi nilai tambah. City tidak hanya membutuhkan kualitas teknis, tetapi juga ketahanan mental untuk menghadapi tekanan hingga akhir musim. Haaland, dengan target tinggi yang ia pasang sendiri, menjadi simbol dari semangat tersebut.
Penutup
Pengakuan Pep Guardiola bahwa Erling Haaland memasang target tinggi demi membantu tim memperlihatkan sisi kompetitif seorang striker elite. Gol penentu melawan Liverpool membuktikan bahwa tekanan tersebut dapat berubah menjadi energi positif.
Dengan Arsenal masih memimpin klasemen, perjalanan menuju gelar masih panjang. Namun selama Haaland terus menjaga ambisi dan kontribusinya, Manchester City memiliki fondasi kuat untuk terus menekan hingga pekan terakhir musim ini.
BBC Sport – Haaland puts “pressure on himself” to help team