Bola . 02/03/2026, 10:35 WIB
Penulis : Makruf | Editor : Makruf
fin.co.id - Michael Carrick kembali menjadi sorotan publik Manchester United setelah berhasil membawa tim tetap tak terkalahkan dalam tujuh laga terakhir. Sejak ditunjuk sebagai pelatih sementara, pria berusia 44 tahun ini menunjukkan kemampuan menenangkan skuad yang sempat kehilangan arah, sekaligus memanfaatkan momentum penting di Old Trafford untuk mengamankan posisi tim di papan atas Premier League.
Dalam tujuh pertandingan terakhir di bawah arahan Carrick, Manchester United mencatat enam kemenangan dan satu hasil imbang, termasuk kemenangan krusial atas Arsenal dan hasil seri menghadapi Chelsea pada periode sebelumnya sebagai interim.
Hasil ini membuat United kini menempati posisi ketiga di klasemen sementara Premier League, level tertinggi sejak akhir musim 2022-23 di bawah Erik ten Hag.
Keberhasilan Carrick ini menimbulkan pertanyaan besar bagi manajemen klub: apakah sang interim layak diangkat sebagai pelatih permanen?
Terlebih, reaksi fans sangat positif, dengan banyak lagu dan tepuk tangan yang menyambutnya setelah pertandingan, menunjukkan dukungan publik yang kuat terhadap kehadiran Carrick di kursi kepelatihan.
Beberapa pihak, termasuk manajer Crystal Palace, Oliver Glasner, menyebut keberhasilan Carrick sebagian dipengaruhi faktor keberuntungan, seperti penalti dan kartu merah Maxence Lacroix yang krusial dalam laga terakhir.
Glasner menyebutnya sebagai fenomena “Old Trafford bounce”, sebuah istilah yang menggambarkan bagaimana keputusan kadang menguntungkan tim tuan rumah.
Namun, menurut mantan asisten wasit Premier League Darren Cann, keputusan wasit Chris Kavanagh sudah tepat sesuai aturan. Penalti dan kartu merah diberikan karena pelanggaran terjadi di dalam kotak penalti, meski kontak awal terjadi di luar area.
Hal ini menunjukkan bahwa keberhasilan MU bukan semata keberuntungan, tetapi juga hasil kombinasi kesiapan tim, kepemimpinan Carrick, dan kepatuhan terhadap regulasi pertandingan.
Salah satu kualitas menonjol Carrick adalah pendekatan yang tenang dan tidak mencari sorotan. Ia lebih sering menggunakan kata “kami” daripada “saya” ketika berbicara tentang kemenangan tim. Ini tercermin dalam bagaimana dia memotivasi pemain saat MU tertinggal di babak pertama melawan Crystal Palace, menekankan reaksi tim daripada mencari alasan.
Pendekatan ini berbeda dari beberapa kandidat lain yang dikaitkan dengan kursi pelatih permanen, seperti Roberto de Zerbi atau Oliver Glasner. Sementara mereka memiliki rekam jejak impresif di klub lain, Carrick menunjukkan koneksi langsung dengan pemain dan fans, serta kemampuan menavigasi tekanan di Old Trafford secara efektif.
Network:
FinNews.id |
Radarpena.co.id |
IKNPos.id
PT.Portal Indonesia Media