Bola . 07/04/2026, 12:48 WIB
Penulis : Rikhi Ferdian Herisetiana | Editor : Rikhi Ferdian Herisetiana
fin.co.id - Kegagalan tim nasional Italia melangkah ke putaran final Piala Dunia 2026 menyisakan luka mendalam sekaligus kritik pedas dari berbagai penjuru dunia. Legenda sepak bola Jerman, Jurgen Klinsmann, menyebut kegagalan Gli Azzurri bukan sekadar nasib buruk, melainkan buah dari krisis kepemimpinan dan keengganan klub memberikan ruang bagi talenta muda.
Italia dipastikan absen dari panggung sepak bola paling bergengsi sejagat untuk ketiga kalinya secara beruntun. Langkah mereka terhenti secara dramatis melalui adu penalti melawan Bosnia-Herzegovina pada laga final play-off, 31 Maret lalu.
Klinsmann, yang memiliki ikatan emosional kuat dengan Italia saat membela Inter Milan dan Sampdoria, mengaku terpukul melihat kemerosotan prestasi tersebut. "Saya sangat menderita bersama teman-teman Italia saya di Los Angeles," ujar Klinsmann dalam analisisnya yang dikutip dari Detik Sport. Ia bahkan menyebut hasil buruk tersebut membuatnya kesulitan tidur.
Menurut Klinsmann, salah satu titik lemah mendasar Italia saat ini adalah hilangnya sosok pemimpin di lapangan hijau. Ia menyoroti minimnya keberanian pemain untuk melakukan penetrasi individu atau duel satu lawan satu. Klinsmann menilai filosofi kepelatihan di Italia masih terjebak dalam pola pikir defensif yang usang.
"Italia membayar mahal karena kekurangan pemimpin. Banyak pelatih di sana masih terpaku untuk menghindari kekalahan daripada mengejar kemenangan dengan agresif. Dan inilah hasilnya," tegasnya.
Isu regenerasi menjadi poin paling tajam dalam kritik Klinsmann. Ia menyindir kebijakan klub-klub Serie A yang cenderung konservatif terhadap pemain remaja. Padahal, secara statistik, tim junior Italia menunjukkan prestasi gemilang, seperti juara Piala Eropa U-19 (2023) dan juara Piala Eropa U-17 (2024).
Namun, prestasi di level junior tersebut tidak berbanding lurus dengan kesempatan di tim senior. Klinsmann membandingkan situasi ini dengan fenomena Lamine Yamal di Spanyol atau Jamal Musiala di Jerman yang langsung menjadi pilar di usia belia.
“Di Italia, pemain seperti Yamal dan Musiala mungkin akan dikirim ke Serie B untuk mencari pengalaman,” ungkap Klinsmann.
Kondisi ini dianggap sebagai 'penyakit lama' sepak bola Italia. Minimnya jam terbang bagi pemain muda di kompetisi kasta tertinggi membuat potensi mereka layu sebelum berkembang. Jika tidak ada perubahan sistemik dalam memberikan kepercayaan pada pemain muda, Klinsmann khawatir Italia akan terus tertinggal dalam peta persaingan sepak bola global.
Absennya Italia di Piala Dunia 2026 tidak hanya menjadi pukulan telak bagi kebanggaan nasional warga Negeri Pizza, tetapi juga dikhawatirkan menurunkan nilai komersial dan daya tarik Serie A di mata investor serta penggemar dunia.
Network:
FinNews.id |
Radarpena.co.id |
IKNPos.id
PT.Portal Indonesia Media