Protes Keras Berbuah Manis, Pembatasan Perjalanan bagi Timnas Iran di Piala Dunia 2026 Diperlonggar

sport.fin.co.id - 21/06/2026, 19:45 WIB

Protes Keras Berbuah Manis, Pembatasan Perjalanan bagi Timnas Iran di Piala Dunia 2026 Diperlonggar

AS longgarkan aturan perjalanan bagi Timnas Iran di Piala Dunia 2026.

fin.co.id - Pelatih Tim Nasional Iran, Amir Ghalenoei, membawa kabar terbaru mengenai kondisi skuadnya di tengah bergulirnya turnamen terakbar sejagat. Pada Sabtu, 20 Juni 2026, Ghalenoei mengonfirmasi bahwa otoritas Amerika Serikat akhirnya bakal melonggarkan pembatasan perjalanan yang ketat bagi timnya menjelang laga pamungkas fase grup.

Kendati demikian, ia tetap melayangkan kritik tajam atas perlakuan diskriminatif yang menimpa anak-anak asuhnya selama ini karena terbukti merusak performa permainan di lapangan hijau.

Situasi non-teknis memang membayangi langkah Team Melli. Skuad Iran tiba di Piala Dunia saat negara mereka masih terlibat konflik perang dengan sang tuan rumah bersama, Amerika Serikat. Akibatnya, armada Iran terpaksa mendirikan markas latihan di Meksiko, meskipun mereka harus memainkan seluruh pertandingan resmi di wilayah AS.

Kondisi geopolitik tersebut memaksa para pemain melakukan perjalanan lintas batas negara secara terus-menerus. Terlebih lagi, otoritas AS sebelumnya hanya mengizinkan tim Iran menetap di negaranya selama beberapa jam saja pasca-pertandingan, dengan aturan birokrasi yang kerap berubah mendadak pada menit-menit terakhir.

Aturan Perjalanan Baru dari Otoritas Seattle

Setelah menghadapi jadwal yang rumit, Amir Ghalenoei menjelaskan adanya perubahan regulasi dari pihak berwenang khusus untuk pertandingan penentu mendatang. Setelah bermain melawan Belgia di Los Angeles pada Minggu, 21 Juni 2026, pertandingan grup terakhir Iran akan berlangsung di Seattle Jumat depan melawan Mesir.

Ghalenoei mengatakan bahwa ia telah diberitahu bahwa timnya akan memiliki lebih banyak fleksibilitas untuk pertandingan terakhir mereka, sebelum dengan cepat menambahkan bahwa akan menjadi sebuah keadilan bagi timnya untuk mendapatkan perlakuan yang sama untuk dua pertandingan pertama mereka.

“Mereka bilang di Seattle, kalian bisa melakukan apa saja, bertindak sesuka hati, dan datang lebih awal,” katanya dalam konferensi pers, tanpa menyebutkan secara spesifik dari siapa informasi itu berasal.

“Tapi yang saya inginkan, masalah saya adalah, mengapa mereka tidak mengizinkan kami datang lebih awal untuk dua pertandingan pertama juga? Saya hanya tahu untuk pertandingan terakhir, ya, mereka mengizinkan kami untuk memutuskan, untuk membuat keputusan sendiri terkait perencanaan perjalanan. Tapi sayangnya, untuk dua pertandingan pertama, pihak lain yang mengatur perjalanan dan waktu untuk kami,” keluhnya secara terbuka.

Dampak Kelelahan Fisik pada Performa Tim

Aturan transit yang melelahkan ini terbukti berimbas langsung pada performa fisik para pemain Iran di atas lapangan. Pada laga pekan lalu, Iran hanya mampu bermain imbang 2-2 melawan Selandia Baru, yang berstatus sebagai tim dengan peringkat terendah di turnamen ini. Saat itu, koordinasi lini belakang yang ceroboh membuat skuad All Whites sempat memimpin dua kali sebelum akhirnya disamakan oleh Iran.

Ghalenoei membeberkan bahwa ada kesalahan, kesalahan individu, dan juga terkait pertahanan yang mereka miliki, dan ia berpikir timnya bermain dengan terlalu banyak melakukan operan. Menurutnya, karena mereka terlalu sering terbang, bolak-balik, akibat perjalanan panjang ini, mereka jadi lelah.

Sang manajer menambahkan bahwa hambatan yang mereka terima justru semakin berat menjelang laga krusial hari Minggu melawan Belgia, yang merupakan tim dengan peringkat tertinggi di Grup G. Ghalenoei mengatakan timnya tiba di AS pada hari Sabtu, kurang dari 24 jam sebelum pertandingan dimulai, meskipun sempat diberitahu oleh FIFA pada Jumat siang bahwa mereka mungkin dapat melakukan perjalanan pada hari itu.

“Kami menunggu hingga pukul 7 malam, tidak terjadi apa-apa, dan mereka berkata, 'Maaf, kami tidak dapat melakukannya.' Itu akan memengaruhi mental kami, terutama saya sebagai pelatih kepala, karena saya ingin fokus pada hal-hal teknis,” ketus Ghalenoei akibat timnya hanya mampu melakukan setengah dari sesi latihan pra-pertandingan biasanya.

Saat ini, peta persaingan di Grup G masih sangat ketat di mana keempat tim sama-sama mengoleksi satu poin. Hanya dua tim teratas yang otomatis mengunci tiket ke babak gugur, sementara sebagian besar tim peringkat ketiga di semua grup juga akan lolos ke babak selanjutnya, tergantung pada performa mereka.

Esnoe Faqih Wardhana
Esnoe Faqih Wardhana
Penulis

Penulis FIN.CO.ID