Meski begitu, target realistis yang dicanangkan adalah Piala Dunia 2034, di mana PSSI berharap fondasi sepak bola nasional sudah jauh lebih kuat.
“Kami ingin figur yang terbaik untuk posisi ini. Prestasi itu adalah investasi. Ini bukan cuma masalah biaya, tapi juga membutuhkan waktu dan strategi yang pas,” kata Vivin menegaskan.
AFF 2026 Jadi Ujian Pertama Pelatih Baru
Walau tidak menjadi prioritas utama, Piala AFF 2026 akan menjadi ujian pertama bagi pelatih baru timnas Indonesia.
Turnamen ini diharapkan bisa menjadi ajang pembuktian awal sekaligus momentum membangun fondasi permainan tim yang solid.
Baca Juga
Namun, PSSI menegaskan bahwa fokus utama bukan hanya pada hasil instan, melainkan pembangunan jangka panjang sepak bola nasional yang terarah dan konsisten.
Lebih lanjut, Vivin Cahyani mengingatkan bahwa dalam mendatangkan pelatih baru, PSSI tidak hanya berbicara soal biaya kontrak.
Ada banyak aspek yang dipertimbangkan, mulai dari rekam jejak, filosofi bermain, hingga kemampuan membangun karakter pemain muda.
Menurut Vivin, pelatih baru timnas Indonesia harus mampu mengangkat standar profesionalisme dan mental juara pemain, sekaligus mampu menyesuaikan diri dengan kultur sepak bola Indonesia.
Baca Juga
“Kami tidak mau gegabah. Pelatih baru nanti harus bisa memenuhi apa yang diminta PSSI agar sepak bola Indonesia bisa lebih baik lagi,” tutur Vivin.
Langkah hati-hati yang diambil PSSI menunjukkan adanya perubahan arah menuju sepak bola modern yang berkelanjutan.
Di bawah kepemimpinan Erick Thohir, federasi ini menekankan pentingnya pembangunan sistem, pembinaan usia muda, dan kesinambungan program tim nasional.
Erick Thohir sendiri sudah beberapa kali menegaskan bahwa proses transformasi sepak bola nasional tidak bisa instan. Karena itu, PSSI kini memilih membangun fondasi kuat ketimbang hanya mengejar hasil cepat.