Pernyataan ini menjadi pukulan telak, mengingat Malaysia selama ini merasa berada di level yang setara—bahkan lebih baik dalam beberapa periode.
Sebelum nama Shin Tae-yong masuk radar media Negeri Jiran, Malaysia sebenarnya sedang berada dalam tren positif di bawah pelatih Peter Cklamovski. Tahun 2025 mereka menutup kalender pertandingan tanpa satu kekalahan pun rekor yang cukup langka untuk sepak bola Malaysia.
Sayangnya, prestasi itu kini terasa hambar.
FIFA membongkar bahwa tujuh pemain naturalisasi Malaysia ternyata memiliki dokumen yang dipalsukan. Fakta ini membuat seluruh pencapaian skuad Harimau Malaya dipertanyakan kredibilitasnya.
Situasi ini semakin memperkeruh suasana internal FAM. Belum selesai skandal Pan-Gon pada 2024—di mana pelatih Korea Selatan itu mundur secara mengejutkan—Malaysia kini kembali terjebak dalam kontroversi besar.
Baca Juga
Jejak Pelatih Asing di Malaysia
Sebelum isu Shin Tae-yong mencuat, Malaysia sempat mencoba beberapa pelatih asing dengan hasil yang naik turun:
-
Kim Pan-gon (Korea Selatan) – membangun fondasi bagus tetapi mundur pada Juli 2024.
-
Pau Marti (Spanyol) – era singkat yang penuh eksperimen.
-
Peter Cklamovski (Australia) – membawa rekor tanpa kekalahan 2025.
Namun kini masa depan Cklamovski tersandera persoalan yang bukan ia buat sendiri. Jika FAM benar-benar dibekukan, ia bisa saja diberhentikan karena alasan teknis dan struktural.
Dan di celah kekacauan inilah, nama Shin Tae-yong muncul sebagai sosok yang dianggap mampu “merevolusi” Malaysia.
Indonesia Lebih Sistematis
Komentar Shin Tae-yong tentang “lebih sistematisnya Indonesia” bukan tanpa dasar. Dalam lima tahun terakhir, Indonesia memiliki:
-
Struktur tim nasional yang konsisten dari U-17, U-20, U-23, hingga senior.
-
Pembinaan jangka panjang yang terukur.
-
Program naturalisasi yang lebih transparan dan legal secara dokumen.
-
Liga yang lebih ramai dan kompetitif.
Di sisi lain, Malaysia masih berkutat dengan problem dasar: