fin.co.id - FC Copenhagen akan menjamu Kairat Almaty di Stadion Parken dalam lanjutan fase liga Liga Champions, pada Kamis, 27 November 2025, pukul 00.45.
Kedua tim sama-sama belum mencatat satu pun kemenangan setelah empat laga, membuat pertemuan ini bukan sekadar pertarungan untuk bertahan, tetapi juga upaya terakhir membuka peluang melaju.
Copenhagen dan Kairat saat ini mengoleksi satu poin, menempati peringkat ke-33 dan 34 dari total 36 peserta fase liga.
Kondisi ini menjadikan laga nanti sebagai penentu moral, sekaligus peluang memperbaiki posisi sebelum liga memasuki tahap akhir.
FC Copenhagen: Produktif di Kandang, Rapuh di Eropa
Performa Copenhagen di Liga Champions musim ini menunjukkan kesulitan besar dalam menjaga konsistensi. Tiga kekalahan dan satu hasil imbang menjadi catatan yang menunjukkan masalah serius, terutama di lini belakang.
Mereka kebobolan 12 gol dan baru mencetak empat, termasuk kekalahan telak 0-4 dari Tottenham Hotspur pada pertandingan keempat.
Baca Juga
Kekalahan itu memperpanjang rentetan tiga kekalahan beruntun mereka di Liga Champions, rekor terburuk klub di kompetisi ini.
Meski demikian, satu hal yang masih menjadi modal positif adalah ketajaman mereka di Parken. Copenhagen selalu mencetak gol dalam 18 laga kandang terakhir di kompetisi UEFA.
Di kompetisi domestik, mereka baru saja meraih kemenangan 1-0 atas Brondby, yang memberi dorongan kepercayaan diri menjelang laga ini.
Kairat Almaty: Bertahan Kuat, Menyerang Lemah
Dari sisi tamu, Kairat Almaty berada dalam kondisi yang hampir serupa. Satu poin dari empat pertandingan tidak sepenuhnya menggambarkan kolektivitas mereka, terutama karena lini pertahanan sebenarnya bekerja cukup baik meski dihujani tekanan.
Baca Juga
Kiper utama, Temirlan Anarbekov, tampil luar biasa. Ia hanya kebobolan dua gol dari peluang berbahaya lawan yang seharusnya menghasilkan hampir enam gol.
Catatan itu menjadikannya kiper dengan penyelamatan terbaik sejauh ini di Liga Champions.
Namun di lini serang, Kairat kesulitan besar. Mereka hanya mencetak dua gol dan memiliki angka ekspektasi gol terendah kedua di kompetisi, sekaligus rekor selisih ekspektasi gol terburuk.