KONTROVERSI! FIFA Pilih Laga Mesir vs Iran di Piala Dunia 2026 Dsebagai 'Pride Match' Perayaan LGBTQ+

sport.fin.co.id - 09/12/2025, 09:31 WIB

KONTROVERSI! FIFA Pilih Laga Mesir vs Iran di Piala Dunia 2026 Dsebagai 'Pride Match' Perayaan LGBTQ+

fin.co.id - Keputusan FIFA kembali memicu gelombang kontroversi global. Kali ini, induk organisasi sepak bola dunia tersebut dituding melakukan langkah sensitif dengan menunjuk laga antara Timnas Mesir vs Timnas Iran di Piala Dunia 2026 sebagai pertandingan khusus perayaan LGBTQ+, yang diberi tajuk “Pride Match”.

Rencana ini sontak menuai kritik tajam dari berbagai pihak, mengingat Mesir dan Iran merupakan dua negara mayoritas Muslim yang secara hukum dan budaya menolak keberadaan LGBTQ+.

Tak heran jika keputusan ini langsung ramai diperbincangkan dan memantik perdebatan panas di media internasional.

Mengutip laporan dari RMC Sports, FIFA bersama panitia lokal Seattle berencana menggelar laga “Pride Match” di Stadion Lumen Field, Seattle, Amerika Serikat, pada 26 Juni 2026 waktu setempat.

Juru bicara penyelenggara menyebut bahwa konsep “Pride Match” ini bukan keputusan mendadak. Menurut mereka, acara tersebut telah dirancang jauh sebelum pengundian fase grup Piala Dunia dilakukan.

“Pride Match dijadwalkan untuk merayakan dan menampilkan acara-acara Pride di Seattle dan di seluruh negeri, dan telah direncanakan jauh hari sebelumnya,” ujar pihak penyelenggara.

Seattle sendiri dikenal sebagai salah satu kota paling ramah terhadap komunitas LGBTQ+ di Amerika Serikat. Karena itu, laga ini disebut sebagai bagian dari komitmen tuan rumah dalam menciptakan lingkungan yang inklusif.

Masalah mulai mencuat ketika FIFA merilis jadwal resmi grup. Berdasarkan pengundian, laga “Pride Match” ternyata jatuh pada pertandingan Grup G antara Mesir vs Iran.

Duel ini seharusnya menjadi pertandingan biasa. Namun dengan embel-embel perayaan LGBTQ+, publik menilai FIFA gagal membaca sensitivitas budaya dan hukum dari kedua negara tersebut.

Pasalnya:

  • Iran secara tegas menganggap homoseksualitas sebagai kejahatan serius, bahkan diancam hukuman mati.

  • Mesir meski tidak mengatur secara eksplisit dalam undang-undang, tetap menolak LGBTQ+ melalui berbagai aturan moralitas dan ketertiban umum.

Kondisi inilah yang membuat banyak pihak menilai keputusan FIFA sebagai “langkah ngawur” yang berpotensi merusak suasana turnamen.

Para pengamat sepak bola internasional mengingatkan bahwa pertandingan ini berpotensi menimbulkan:

Derry Sutardi
Derry Sutardi
Penulis

Penulis FIN.CO.ID