TMJ juga bersikeras bahwa dokumen kewarganegaraan yang dikeluarkan oleh National Registration Department (NRD) Malaysia adalah sah, meskipun belakangan disebut dibuat dengan data yang dimanipulasi.
“Jika mereka dapat mempertanyakan dokumen Departemen Registrasi Nasional (NRD), kewarganegaraan Anda juga dapat dipertanyakan,” katanya.
Pernyataan ini semakin memperkuat kesan bahwa TMJ enggan mengakui adanya kesalahan dalam proses naturalisasi pemain Timnas Malaysia.
Di tengah badai kritik dan sanksi FIFA, TMJ mencoba bersikap optimistis. Ia menyatakan bahwa sepak bola Malaysia tidak akan mati meski kalah di CAS.
Baca Juga
“Kasus ini sekarang berada di CAS, jika kita tidak menang, bukan berarti sepak bola kita sudah mati.”
“Kita perlu terus maju,” kata Tunku Ismail Idris.
Namun, pernyataan tersebut justru dinilai publik sebagai bentuk penyangkalan, bukan refleksi atau evaluasi atas kesalahan yang terjadi.
Kontroversi tak berhenti di situ. TMJ juga meluapkan kekesalannya kepada wartawan Malaysia yang dinilai terlalu fokus menyoroti kasus FIFA dan naturalisasi.
Ia mempertanyakan mengapa media tidak membahas isu lain yang menurutnya lebih besar, seperti pengembangan atlet dan masalah keuangan sepak bola lokal.
“Mengapa media tidak meliput isu-isu yang lebih besar? Kita punya masalah dengan pengembangan atlet, masalah keuangan.”
“Penang FA tidak mendapatkan dukungan apa pun dari Penang FC dan mereka meminta saya RM500.000.”
TMJ tampak kesal karena setiap kali bertemu media, pertanyaan yang muncul selalu berkaitan dengan FIFA dan skandal naturalisasi.
Alih-alih meredakan situasi, sikap TMJ justru dinilai memperkeruh suasana. Menyenggol Indonesia, mempertanyakan FIFA, serta menyalahkan media dianggap tidak menyentuh akar persoalan utama: validitas proses naturalisasi pemain.
Di tengah proses hukum yang masih berjalan di CAS, publik sepak bola Asia Tenggara kini menunggu apakah Malaysia akan benar-benar berbenah, atau justru terus mencari kambing hitam.