Intisarinya:
Kabar mengejutkan menggemparkan dunia sepak bola Indonesia kemarin. PSSI resmi memperkenalkan John Herdman sebagai nahkoda baru Timnas Indonesia! Pelatih asal Inggris berusia 50 tahun ini datang bukan hanya dengan reputasi sebagai ahli taktik, tetapi lebih dari itu, ia adalah seorang 'pembangun kultur'. Bayangkan, di tangan Herdman, Timnas Kanada mengakhiri penantian 36 tahun absen dari Piala Dunia, dan kini, optimisme melambung tinggi, apakah ia bisa menorehkan sejarah serupa untuk Garuda?
fin.co.id - Jason deVos, mantan punggawa Timnas Kanada yang kini menjabat direktur pengembangan, membongkar kunci kesuksesan Herdman. Menurut deVos, fondasi utama keberhasilan Herdman bukanlah strategi di atas kertas, melainkan pembangunan karakter pemain secara jangka panjang. "Dukungan John Herdman terhadap prinsip pengembangan pemain jangka panjang, termasuk penggunaan aktivitas latihan dan format permainan yang sesuai dengan usia dan tahap perkembangan pemain, menegaskan jalur menuju level elite dalam sepak bola dimulai dari akar rumput," jelas deVos. Ini menunjukkan bahwa Herdman percaya, potensi terbaik lahir dari pondasi yang kuat sejak dini.
Baca Juga
Pendekatan ini bukan sekadar teori. DeVos, yang juga pernah menjadi asisten Herdman di Toronto FC, menegaskan bahwa fokus utama Herdman adalah mengajarkan dasar-dasar permainan kepada pemain muda. Tujuannya jelas: memberikan mereka bekal terbaik untuk merengkuh impian level elite sepak bola. Dengan 49 caps bersama Timnas Kanada semasa bermain, deVos memahami betul pentingnya proses pembinaan yang berkelanjutan.
'Brotherhood' ala Herdman: Melampaui Ruang Ganti
Apa yang membuat Herdman begitu istimewa? Ia dikenal sebagai pembangun kultur tim yang kuat, terutama melalui konsep 'brotherhood' atau persaudaraan di dalam tim. Rekam jejaknya bersama tim putra dan putri Kanada membuktikan, perubahan besar tidak hanya datang dari papan taktik, tetapi dari pembenahan mental, ego pemain, dan dinamika ruang ganti. Di bawah asuhannya, Kanada menjelma menjadi tim yang punya kohesi kuat, saling percaya, dan identitas kolektif yang solid, tak lupa penguatan di level akar rumput.
Baca Juga
Konsep persaudaraan ini tidak hanya sekadar slogan. Ia mewujud dalam kedisiplinan emosional dan rasa tanggung jawab yang tinggi antar pemain. Junior Hoilett, salah satu pemain kunci Kanada di Piala Dunia 2022, menggambarkan suasana tim asuhan Herdman sebagai kultur persaudaraan sejati, tanpa ada agenda pribadi. "Apa yang dibangun John Herdman di sini adalah budaya persaudaraan yang nyata, tanpa agenda pribadi. Semua orang berada di jalur yang sama dan tahu mengapa mereka berada di sini untuk tim nasional," ungkap Hoilett yang kini berusia 35 tahun. Ia menegaskan, semua pemain fokus pada tujuan bersama untuk timnas.
Dampak Personal: Membentuk Pribadi, Bukan Hanya Atlet
Pengaruh Herdman ternyata merasuk lebih dalam, melampaui batas lapangan hijau. Rhian Wilkinson, mantan pemain Timnas Putri Kanada, mengaku merasakan perubahan besar dalam dirinya berkat Herdman. "John Herdman telah memengaruhi kami semua dalam cara yang sangat besar dan hanya sebagian kecil dari itu yang sebenarnya berkaitan langsung dengan sepak bola. Kedengarannya mungkin berlebihan, tapi ia mungkin telah mengubah saya sebagai pribadi, padahal saya baru mengenalnya ketika berusia 29 tahun," ujar Wilkinson. Ini membuktikan bahwa pendekatan Herdman mampu membentuk karakter individu menjadi lebih baik.
Bagi Diana Matheson, mantan penggawa Timnas Putri Kanada lainnya, kesuksesan tidak semata diukur dari hasil akhir pertandingan. Yang terpenting baginya adalah bagaimana tim meraih kemenangan tersebut. "Di tim John Herdman yang penting bukan hanya hasil akhirnya, tetapi bagaimana kita memilih mencapainya. Gaya bermain itu penting, dengan siapa kita melakukannya juga penting, tetapi lebih penting lagi kami menjadi orang Kanada yang baik dalam skuad nasional," jelas Diana yang kini berusia 41 tahun. Ia menekankan pentingnya integritas dan nilai-nilai luhur dalam setiap pencapaian tim.