Menguak Rahasia Keperkasaan Tim Premier League di Liga Champions Musim Ini

sport.fin.co.id - 30/01/2026, 11:55 WIB

Menguak Rahasia Keperkasaan Tim Premier League di Liga Champions Musim Ini

Arsenal, Image: @declanrice / Instagram

Perbedaan ini menciptakan efek paradoks. Tekanan fisik ekstrem di liga domestik menempa klub-klub Inggris menjadi lebih tangguh, sementara ruang yang lebih terbuka di Liga Champions memberi mereka kesempatan mengeksekusi kualitas individu dan kolektif dengan lebih efektif.

Apakah Jadwal Lebih Bersahabat?

Keberhasilan banyak klub Inggris lolos ke fase gugur juga memunculkan pertanyaan tentang keberuntungan jadwal. Analisis dari Opta menunjukkan bahwa beberapa wakil Premier League memang mendapat undian relatif ringan. Arsenal, misalnya, memiliki jadwal ketiga termudah, diikuti Tottenham di peringkat keempat, Liverpool ketujuh, dan Chelsea kedelapan.

Namun tidak semua bernasib sama. Manchester City berada di tengah dengan tingkat kesulitan ke-14, sementara Newcastle harus menghadapi juara bertahan Paris Saint-Germain dan menempati peringkat ke-32 dalam daftar jadwal tersulit. Fakta ini menunjukkan bahwa dominasi Inggris tidak semata-mata hasil undian yang menguntungkan.

Peluang Rekor dan Ancaman Kelelahan

Sepanjang sejarah, Inggris hanya sekali mengirim lima wakil ke fase gugur, yakni pada 2017. Musim ini, peluang itu kembali terbuka, bahkan dengan potensi enam tim melaju. Inggris juga berpeluang mencatat rekor baru dengan menempatkan hingga enam klub di perempat final, sesuatu yang belum pernah dicapai negara lain.

Namun, ancaman kelelahan selalu mengintai. Warnock mengingatkan bahwa intensitas Premier League bisa menjadi penghalang terbesar dalam perburuan gelar. Ia menilai sangat sulit bagi satu klub Inggris untuk menjuarai Liga Champions karena beratnya tuntutan liga domestik setiap pekan.

Meski demikian, posisi awal klub-klub Inggris di fase gugur dinilai sangat menjanjikan, terutama karena beberapa raksasa Eropa lain belum menunjukkan performa terbaiknya.

Peta Persaingan Eropa yang Berubah

Di luar Inggris, hanya segelintir negara yang mampu mengirim wakil langsung ke fase gugur, seperti Jerman melalui Bayern Munich, Spanyol lewat Barcelona, dan Portugal dengan Sporting CP. Sejumlah nama besar justru harus melalui jalur play-off, termasuk Paris Saint-Germain, Juventus, Inter Milan, Borussia Dortmund, dan Atletico Madrid.

Salah satu cerita paling mengejutkan datang dari Bodo/Glimt. Klub Norwegia itu mengalahkan Atletico Madrid dan sebelumnya menundukkan Manchester City, menjadikan mereka tim Norwegia pertama yang melaju dari fase awal Liga Champions sejak Rosenborg pada 1996-97.

Kesimpulan

Keperkasaan tim Premier League di Liga Champions tidak lahir dari satu faktor tunggal. Ia merupakan hasil akumulasi kekuatan finansial, kedalaman skuad, intensitas fisik, serta konteks taktik yang berbeda antara kompetisi domestik dan Eropa. Meski ancaman kelelahan selalu membayangi, posisi klub-klub Inggris saat ini menunjukkan bahwa dominasi tersebut bukan kebetulan.

Dalam lanskap sepak bola Eropa modern, Premier League telah menetapkan standar baru, bukan hanya soal uang, tetapi juga tentang bagaimana tekanan domestik dapat membentuk kesiapan bersaing di level tertinggi benua biru.

Referensi

Makruf
Makruf
Penulis

Penulis FIN.CO.ID