Bola . 06/02/2026, 10:58 WIB
Penulis : Makruf | Editor : Makruf
Solskjaer memulai masa tugasnya dengan rentetan hasil impresif. United memenangkan delapan laga awal, termasuk kemenangan penting di kandang Tottenham dan Arsenal.
Satu-satunya kekalahan dalam 17 pertandingan pertama pun mampu dibalas dengan comeback dramatis atas Paris Saint-Germain di Liga Champions.
Euforia tersebut membuat United mengikat Solskjaer dengan kontrak jangka panjang sebelum musim berakhir.
Namun, performa tim justru merosot drastis setelahnya. United hanya meraih dua kemenangan dari 12 laga terakhir musim itu.
Banyak pihak kemudian berpendapat bahwa keputusan diambil terlalu dini, tanpa evaluasi menyeluruh.
Pengalaman inilah yang kini membayangi setiap langkah manajemen United.
Berbeda dengan beberapa tahun lalu, struktur pengambilan keputusan di Manchester United kini berada di bawah kendali figur baru dalam operasional sepak bola.
Pendekatan yang diambil pun lebih sistematis. Klub secara terbuka menyatakan ingin menjalani proses yang tepat untuk mengevaluasi semua kandidat potensial, bukan hanya terpaku pada hasil jangka pendek.
Ada keyakinan bahwa performa bagus dalam beberapa pekan belum cukup untuk menilai kecocokan jangka panjang seorang manajer.
Faktor gaya kepemimpinan, konsistensi, kemampuan mengelola tekanan, hingga kesiapan menghadapi periode sulit menjadi pertimbangan utama.
Dalam konteks ini, Carrick dipandang masih berada dalam fase pembuktian, bukan tahap konklusi.
Alasan lain mengapa United belum mengambil keputusan adalah soal waktu. Sejumlah pelatih ternama diperkirakan akan tersedia pada akhir musim.
Beberapa di antaranya masih terikat kontrak dan baru bisa didekati secara terbuka setelah kompetisi domestik rampung.
Network:
FinNews.id |
Radarpena.co.id |
IKNPos.id
PT.Portal Indonesia Media