Bola . 05/03/2026, 08:49 WIB
Penulis : Makruf | Editor : Makruf
Manajer Mikel Arteta tidak menunjukkan sedikit pun tanda defensif berlebihan. Ia membalas kritik dengan nada sarkastik dan menegaskan cintanya kepada para pemainnya.
Baginya, yang terpenting adalah bagaimana timnya berkompetisi. Bukan bagaimana mereka dinilai publik.
Arsenal sadar mereka mungkin tidak akan menjadi juara yang dicintai banyak pihak. Tetapi dalam sejarah liga, pemenang tidak diingat karena indahnya permainan semata. Mereka diingat karena trofi.
Sudah lebih dari dua dekade sejak era “Invincibles” di bawah Arsene Wenger mengangkat gelar liga terakhir. Tekanan sejarah itu terasa. Dan musim ini, Arsenal memilih jalan paling efisien untuk memutus penantian panjang tersebut.
Di tengah ketatnya persaingan, terutama dengan bayang-bayang Manchester City yang masih memiliki satu laga lebih banyak, setiap poin menjadi emas.
Arsenal mungkin tidak memikat secara visual. Mereka mungkin membuat lawan jengkel. Mereka mungkin dianggap bermain di batas kesabaran wasit.
Namun mereka unggul tujuh poin.
Dan pada akhirnya, sepak bola tingkat elite bukanlah kontes popularitas. Ini adalah kontes ketahanan mental, kecerdikan taktis, dan kemampuan membaca momen.
Jika Arsenal benar-benar mengangkat trofi musim ini, malam panas di Brighton bisa dikenang sebagai titik balik — malam ketika mereka menerima label “villain” dan justru mengubahnya menjadi senjata.
Karena terkadang, untuk menjadi juara, sebuah tim harus rela tidak disukai.
Network:
FinNews.id |
Radarpena.co.id |
IKNPos.id
PT.Portal Indonesia Media