Senegal Siap Gugat CAF, Buntut Kontroversi Pencabutan Gelar Juara Piala Afrika 2025

sport.fin.co.id - 20/03/2026, 05:40 WIB

Senegal Siap Gugat CAF, Buntut Kontroversi Pencabutan Gelar Juara Piala Afrika 2025

Timnas Senegal Juara Piala Afrika 2025 (by instagram footballsenegal)

fin.co.id - Keputusan mengejutkan mengguncang dunia sepak bola Afrika setelah gelar juara Piala Afrika 2025 yang semula diraih Senegal resmi dicabut.

Situasi ini memicu gelombang protes, tidak hanya dari federasi sepak bola Senegal, tetapi juga dari sejumlah tokoh penting di dalam tubuh sepak bola Afrika.

Kontroversi ini bermula dari final yang mempertemukan Senegal dan Maroko. Dalam pertandingan tersebut, Senegal sempat memastikan kemenangan dramatis 1-0 melalui gol di babak tambahan waktu.

Namun, jalannya laga diwarnai insiden krusial ketika para pemain Senegal sempat meninggalkan lapangan sebagai bentuk protes terhadap keputusan wasit yang memberikan penalti kepada tuan rumah Maroko di menit akhir waktu normal.

Kronologi kontroversi yang berujung keputusan drastis

Insiden terjadi saat pertandingan memasuki masa injury time. Wasit menunjuk titik putih untuk Maroko, sebuah keputusan yang langsung memicu reaksi keras dari para pemain Senegal. Mereka meninggalkan lapangan sebagai bentuk protes, menyebabkan pertandingan terhenti selama 17 menit.

Setelah situasi mereda, laga dilanjutkan. Penalti yang dieksekusi berhasil digagalkan, dan pertandingan berlanjut hingga babak tambahan. Senegal akhirnya keluar sebagai pemenang di lapangan.

Namun, hasil tersebut tidak bertahan lama. Federasi Sepak Bola Maroko mengajukan banding resmi kepada Konfederasi Sepak Bola Afrika (CAF).

Dalam keputusan yang dirilis kemudian, CAF menyatakan bahwa tindakan Senegal meninggalkan lapangan dianggap sebagai pelanggaran serius terhadap regulasi pertandingan.

Akibatnya, CAF membatalkan hasil pertandingan dan menetapkan skor 3-0 untuk kemenangan Maroko. Gelar juara pun secara resmi dialihkan kepada tuan rumah.

Reaksi keras dan tuduhan ketidakadilan

Keputusan ini langsung memicu kemarahan dari pihak Senegal. Salah satu tokoh penting sepak bola Afrika menyatakan bahwa keputusan tersebut merupakan bentuk ketidakadilan yang tidak bisa diterima.

Ia menegaskan bahwa sepak bola seharusnya ditentukan di atas lapangan, bukan melalui keputusan administratif. Dalam pernyataannya, ia menyebut situasi ini sebagai sesuatu yang “tidak dapat diterima” dan menodai prinsip fair play.

Pernyataan tersebut mencerminkan kekecewaan mendalam terhadap proses pengambilan keputusan yang dinilai tidak transparan. Bahkan, muncul dugaan bahwa ada tekanan dari pihak tertentu yang memengaruhi keputusan akhir.

Makruf
Makruf
Penulis

Penulis FIN.CO.ID