Bola . 26/03/2026, 08:50 WIB

Langkah Besar Keluarga Hartono: Membawa Como ke Panggung Elite Eropa

Penulis : Rikhi Ferdian Herisetiana  |  Editor : Rikhi Ferdian Herisetiana

fin.co.id -  Stadion Giuseppe Sinigaglia yang bersandar di tepi danau indah itu kini tengah bersiap menyambut sejarah. Como 1907, klub yang dua musim lalu masih berkutat di kasta kedua, kini menjelma menjadi kejutan terbesar Serie A musim 2025-2026. Di bawah kendali tangan dingin Cesc Fabregas, klub milik Djarum Group ini sedang memacu kencang lokomotifnya menuju panggung paling elite di Benua Biru, Liga Champions.

Hingga giornata ke-30, "I Lariani" duduk nyaman di peringkat keempat klasemen sementara. Kemenangan telak 5-0 atas Pisa yang dibarengi hasil minor para pesaingnya membuat mimpi tampil di kompetisi kasta tertinggi Eropa bukan lagi sekadar angan-angan. Jika berhasil, ini akan menjadi kembalinya Como ke panggung Eropa sejak terakhir kali mencicipi Piala Mitropa pada 1980-1981.

Namun, di balik kegemilangan performa Patrick Cutrone dan kolega, awan mendung regulasi mulai membayangi. Melansir laporan Sportmediaset dan Calcio e Finanza, ada tembok besar yang harus diruntuhkan manajemen sebelum mereka benar-benar bisa mendengar lagu kebangsaan Liga Champions berkumandang di markas sendiri.

Stadion dan "Rumah" Sementara

Masalah pertama adalah infrastruktur. Stadion Giuseppe Sinigaglia saat ini belum memenuhi standar ketat UEFA untuk menggelar laga level Eropa. Renovasi besar-besaran menjadi harga mati. Persoalannya adalah waktu. Jika rekonstruksi tidak rampung pada September 2026, Como harus merantau.

Langkah antisipasi sudah diambil. Manajemen dikabarkan telah menjajaki kerja sama dengan Sassuolo untuk meminjam Mapei Stadium di Reggio Emilia sebagai kandang sementara. Skenario ini mengingatkan publik pada perjuangan Atalanta saat pertama kali menembus Liga Champions, di mana mereka harus menumpang di San Siro akibat renovasi stadion.

Jebakan Finansial dan Aturan Main UEFA

Tantangan kedua datang dari ruang akuntansi. Sejak diambil alih keluarga Hartono pada 2019, Como memang mendapatkan suntikan dana masif yang membuat mereka menjadi salah satu pembelanja terbesar di Italia. Total investasi transfer saja menembus angka 150 juta euro (sekitar Rp 2,93 triliun).

Namun, ambisi besar ini menyisakan lubang finansial. Per Juni 2025, klub mencatatkan kerugian mencapai 105 juta euro. Angka ini menjadi lampu kuning dalam konteks Financial Fair Play (FFP). Meski UEFA diprediksi memberikan kelonggaran di musim perdana, Como wajib menyepakati Settlement Agreement untuk menyeimbangkan neraca keuangan mereka, sebuah langkah yang juga pernah dijalani klub Inggris, Aston Villa.

Krisis Pemain Binaan Lokal

Persoalan teknis paling pelik justru terletak pada komposisi skuad. UEFA mewajibkan setiap klub menyertakan minimal delapan pemain binaan lokal (homegrown), dengan rincian empat pemain dari akademi sendiri dan empat pemain dari sistem pembinaan Italia.

Di sinilah letak kerentanannya. Saat ini, skuad Fabregas sangat minim pemain lokal Italia. Nama-nama seperti Mauro Vigorito dan Edoardo Goldaniga memang berpaspor Italia, namun mereka bukan produk asli akademi Como. Tanpa memenuhi kuota ini, jumlah skuad Como untuk Liga Champions terancam dipangkas dari 25 pemain menjadi jauh lebih sedikit.

Presiden Como, Mirwan Suwarso, kini dihadapkan pada tugas berat. Keberhasilan di lapangan hijau harus segera dibarengi dengan strategi administratif yang matang. Tanpa persiapan di luar lapangan, dongeng indah Como terancam berakhir prematur hanya karena urusan regulasi.

Bagi Como, lolos ke Liga Champions adalah puncak prestasi. Namun bagi manajemen, itu adalah awal dari "pertandingan" sesungguhnya melawan birokrasi dan standarisasi Eropa.

           

Network:
FinNews.id   |  Radarpena.co.id   |  IKNPos.id

© 2024 Copyrights by FIN.CO.ID. All Rights Reserved.

PT.Portal Indonesia Media

Alamat: Graha L9 Lantai 3, Jalan Kebayoran Lama Pal 7 No. 17, Grogol Utara, Kebayoran Lama, RT.7/RW.3 Kota Jakarta Selatan 12210

Telephone: 021-2212-6982

Email:fajarindonesianetwork@gmail.com