Bola . 23/04/2026, 20:53 WIB
Penulis : Derry Sutardi | Editor : Derry Sutardi
fin.co.id - Ajang Piala Dunia FIFA 2026 yang seharusnya menjadi pesta sepak bola terbesar di dunia kini justru diwarnai isu panas bernuansa politik.
Pemerintah Amerika Serikat di bawah kepemimpinan Donald Trump dikabarkan meminta FIFA untuk mencoret Timnas Iran dari daftar peserta dan menggantinya dengan Italia.
Isu ini mencuat setelah seorang utusan khusus Trump, Paolo Zampolli, mengajukan permintaan tersebut kepada Presiden FIFA, Gianni Infantino. Langkah ini langsung memicu kontroversi besar di kalangan pecinta sepak bola dunia.
Dalam pernyataannya, Zampolli mengaku telah menyarankan agar Italia menggantikan Iran di Piala Dunia 2026. Ia menyebut Italia sebagai tim dengan sejarah besar, termasuk empat gelar juara dunia, sehingga dianggap layak tampil.
Padahal, secara aturan, Italia tidak lolos kualifikasi setelah kalah di babak playoff. Kondisi ini membuat banyak pihak menilai usulan tersebut tidak adil dan berpotensi merusak sistem seleksi yang sudah berjalan transparan.
Tak bisa dipungkiri, hubungan antara Amerika Serikat dan Iran memang sedang berada di titik panas. Konflik geopolitik serta sanksi ekonomi membuat hubungan kedua negara semakin memburuk.
Namun, membawa konflik politik ke dalam ajang olahraga dinilai sebagai langkah berbahaya. Banyak pengamat menyebut bahwa intervensi ini bisa merusak prinsip dasar sepak bola yang menjunjung tinggi sportivitas dan netralitas.
Di sisi lain, Iran juga menghadapi situasi yang tidak mudah. Bahkan sebelumnya, pihak Iran sempat meminta agar pertandingan mereka dipindahkan ke Meksiko demi alasan keamanan.
Alih-alih memberikan jaminan keamanan sebagai tuan rumah, wacana pencoretan ini justru menambah tekanan bagi tim tersebut.
Hingga kini, FIFA belum mengeluarkan pernyataan resmi terkait permintaan tersebut. Publik dunia kini menanti sikap tegas organisasi sepak bola tertinggi itu.
Jika FIFA mengabulkan permintaan tersebut, maka Piala Dunia 2026 berpotensi kehilangan kredibilitasnya sebagai ajang olahraga yang adil. Sebaliknya, jika menolak, FIFA akan menunjukkan komitmennya terhadap prinsip independensi dari intervensi politik. (*)
Network:
FinNews.id |
Radarpena.co.id |
IKNPos.id
PT.Portal Indonesia Media