fin.co.id - Mauricio Pochettino dan Sergej Barbarez sama-sama menunjukkan rasa hormat tinggi kepada lawan menjelang duel Amerika Serikat melawan Bosnia dan Herzegovina pada babak 32 besar Piala Dunia 2026. Namun, keduanya memiliki pandangan berbeda mengenai siapa yang layak menyandang status favorit.
Pertandingan yang akan digelar di San Francisco Bay Area Stadium itu menjadi kesempatan bagi Amerika Serikat untuk mengakhiri penantian panjang meraih kemenangan di fase gugur Piala Dunia. Terakhir kali tim berjuluk The Yanks mampu memenangi pertandingan knockout terjadi pada edisi 2002.
Pochettino Tak Mau Anggap Amerika Serikat Favorit
Meski bermain di hadapan pendukung sendiri, Pochettino menolak menganggap timnya lebih diunggulkan dibanding Bosnia dan Herzegovina.
Pelatih asal Argentina itu justru memuji kualitas calon lawannya yang dinilai memiliki organisasi permainan sangat baik, fisik kuat, serta dihuni pemain-pemain berkualitas.
"Bosnia dan Herzegovina adalah tim yang sangat kompetitif, agresif, dan kuat secara fisik. Mereka juga sangat terorganisasi dan memiliki pelatih yang sangat baik," kata Pochettino.
Baca Juga
Ia menambahkan bahwa kualitas Bosnia dan Herzegovina sudah terlihat sepanjang fase grup maupun ketika menghadapi Italia pada laga kualifikasi beberapa bulan lalu.
"Saya rasa lebih mudah membicarakan siapa favorit setelah pertandingan selesai, bukan sebelumnya. Kami sangat menghormati Bosnia dan Herzegovina dan saya tidak percaya kami adalah favorit," ujarnya.
Amerika Serikat Siap Hadapi Segala Kemungkinan
Selain menjaga fokus tim, Pochettino memastikan skuadnya telah mempersiapkan berbagai kemungkinan yang dapat terjadi selama pertandingan, termasuk jika laga harus ditentukan melalui adu penalti.
Menurutnya, staf pelatih bahkan bekerja sama dengan sejumlah pihak untuk membantu para pemain menghadapi tekanan dalam situasi tersebut.
Baca Juga
"Ya, kami siap jika pertandingan harus ditentukan lewat adu penalti. Kami telah bekerja untuk memberikan para pemain berbagai alat agar bisa menghadapi situasi seperti itu dengan cara terbaik," jelas Pochettino.
Pelatih berusia 54 tahun itu juga menegaskan bahwa sejak sebelum turnamen dimulai, setiap pertandingan selalu diperlakukan seperti laga final agar mental para pemain terbiasa menghadapi tekanan besar.