Bola . 02/07/2026, 16:30 WIB
Penulis : Makruf | Editor : Makruf
fin.co.id - Kasus rasisme di media sosial selama Piala Dunia 2026 menunjukkan peningkatan yang mengkhawatirkan. Layanan Social Media Protection Service (SMPS) mengungkapkan bahwa tren pelecehan bermotif rasial terus naik, meski sistem pendeteksian kini semakin canggih.
Menurut laporan BBC Sport, lebih dari enam juta unggahan dan komentar di berbagai platform media sosial dipindai selama penyelenggaraan turnamen. Jumlah tersebut meningkat sekitar 33 persen dibandingkan periode yang sama pada Piala Dunia sebelumnya.
Dari hasil pemindaian itu, sebanyak 225.000 unggahan ditandai untuk ditinjau lebih lanjut oleh tim moderator. Sekitar 1.000 akun kemudian diidentifikasi untuk menjalani penyelidikan lebih lanjut terkait dugaan pelanggaran.
SMPS juga menyatakan bahwa lebih dari 100 kasus telah memenuhi ambang hukum untuk disiapkan menjadi berkas perkara sebagai dasar tindakan penegakan hukum.
Selain itu, sekitar 181.000 komentar yang mengandung ujaran kebencian berhasil disembunyikan dari media sosial guna mengurangi paparan konten diskriminatif terhadap pemain, ofisial, dan pihak lain yang terlibat dalam turnamen.
SMPS mengakui bahwa peningkatan kemampuan teknologi pendeteksian turut berkontribusi terhadap lebih banyaknya konten yang berhasil ditemukan. Namun demikian, lembaga tersebut menegaskan bahwa data yang diperoleh tetap menunjukkan "arah yang mengkhawatirkan" terkait meningkatnya pelecehan bermotif rasial di media sosial.
Salah satu kasus yang menjadi sorotan terjadi setelah tim nasional Belanda tersingkir dari Maroko melalui adu penalti pada babak 32 besar. Tiga pemain yang gagal mengeksekusi penalti, yakni Justin Kluivert, Quinten Timber, dan Crysencio Summerville, menjadi sasaran komentar diskriminatif, rasis, dan ujaran kebencian di media sosial.
Federasi Sepak Bola Belanda (KNVB) mengecam tindakan tersebut dan menyatakan ketiga pemain itu menerima serangan bermuatan kebencian setelah pertandingan berakhir.
Kasus ini kembali menjadi pengingat bahwa persoalan diskriminasi dan rasisme masih menjadi tantangan besar di dunia sepak bola. Meski berbagai upaya pemantauan dan moderasi terus ditingkatkan, pelaku masih memanfaatkan media sosial untuk melancarkan serangan terhadap pemain, terutama setelah pertandingan-pertandingan penting.
Melalui Social Media Protection Service (SMPS), FIFA bersama mitranya terus memantau aktivitas di media sosial selama turnamen berlangsung. Upaya ini diharapkan dapat mempersempit ruang bagi pelaku ujaran kebencian sekaligus mendukung proses penegakan hukum terhadap akun-akun yang terbukti melakukan tindakan rasis.
Referensi:
Network:
FinNews.id |
Radarpena.co.id |
IKNPos.id
PT.Portal Indonesia Media