Krisis Bagnaia Berlanjut, Merasa Dipermalukan usai Finis P13 di Sprint MotoGP Misano 2026
Francesco Bagnaia kembali menjalani akhir pekan berat di MotoGP San Marino 2026. Pembalap Ducati itu hanya mampu finis di posisi ke-13 dalam balapan Sprint di
fin.co.id - Francesco Bagnaia kembali menjalani akhir pekan berat di MotoGP San Marino 2026. Pembalap Ducati itu hanya mampu finis di posisi ke-13 dalam balapan Sprint di Sirkuit Misano, Sabtu, 12 September 2026. Hasil tersebut terasa makin menyakitkan karena diraih di kandang Ducati, sekaligus menjadi penampilan kandang terakhirnya bersama pabrikan Italia tersebut.
Bagnaia mengaku frustrasi dan merasa dipermalukan oleh situasi yang dialaminya. Juara dunia MotoGP dua kali itu menganggap performa Desmosedici yang ditungganginya sangat berbeda dibandingkan motor Ducati milik pembalap lain. Masalah yang dirasakan bukan sekadar kecepatan satu lap, melainkan hilangnya rasa percaya diri terhadap motor saat pengereman dan menikung.
Finis P13 setelah Start dari Posisi Terburuk
Bagnaia memulai Sprint Misano dari hasil kualifikasi terburuknya sepanjang karier di sirkuit tersebut. Ia hanya mampu naik satu posisi dalam balapan dan menyentuh garis finis di urutan ke-13.
Situasi itu membuat rentetan tanpa poin Bagnaia semakin panjang. Ia belum mampu meraih satu poin pun sejak MotoGP Jerman di Sachsenring pada 12 Juli. Bagi pembalap yang pernah menang di Misano dan sangat mengenal karakter lintasan ini, hasil tersebut jelas jauh dari harapan.
Ia bahkan tertinggal 17,8 detik dari rekan setimnya, Marc Marquez, yang tampil sebagai pemenang Sprint. Kontras hasil tersebut memperlihatkan betapa besar kesulitan yang sedang dihadapi Bagnaia, terutama karena keduanya sama-sama mengendarai motor Ducati spesifikasi pabrikan.
Grip Belakang Tidak Muncul Meski Memakai Ban Baru
Masalah utama yang dikeluhkan Bagnaia adalah grip atau daya cengkeram ban belakang. Ia mengatakan kondisi motornya sempat terasa sedikit lebih baik pada sesi pagi. Namun, persoalan kembali muncul ketika tim memasang ban belakang lunak baru untuk kualifikasi.
Baca Juga
Menurut Bagnaia, sensasi yang diterima dari ban lunak baru justru sama dengan ban yang telah digunakan. Kondisi itu membuatnya sulit memaksimalkan akselerasi, menjaga stabilitas, serta menyerang tikungan dengan keyakinan penuh.
“Pagi ini, sejujurnya, saya merasa sedikit lebih baik. Namun ketika memasuki kualifikasi dan kami memasang ban belakang lunak baru, grip yang saya rasakan sama seperti ban lunak bekas,” kata Bagnaia.
Dalam balapan MotoGP, ban baru umumnya menawarkan performa terbaik pada fase awal pemakaian. Peningkatan grip semestinya membantu pembalap mengerem lebih dalam, membuka gas lebih cepat saat keluar tikungan, dan mencatat waktu putaran lebih baik. Ketika perbedaan itu tak dapat dirasakan, pembalap akan kehilangan salah satu acuan utama untuk memahami perilaku motor.
Bagnaia Merasa Motor Melakukan Hal yang Berlawanan
Bagnaia menilai masalahnya begitu membingungkan karena perubahan setelan yang sebelumnya memberi efek positif kini justru menghasilkan respons berlawanan. Ia menyebut tim Ducati belum memiliki jawaban yang jelas mengenai sumber persoalan tersebut.
Baca Juga
“Sangat mudah melihat perbedaan antara apa yang dilakukan motor saya dan semua Ducati lain. Perbedaannya besar, tetapi sulit memahami alasannya. Tim juga belum punya jawaban,” ujar Bagnaia.
Ia menjelaskan bahwa pada masa lalu, ketika grip belakang rendah, tim dapat menambah beban pada bagian belakang motor untuk memperoleh dukungan lebih baik. Namun saat ini, penambahan beban justru membuat grip semakin hilang.