Balap

Sebelum Pindah ke Mercedes, Horner: Hamilton Pernah Ingin Gabung Red Bull

Lewis Hamilton ternyata pernah mempertimbangkan Red Bull sebagai tujuan berikutnya sebelum memutuskan meninggalkan McLaren dan bergabung dengan Mercedes

Sebelum Pindah ke Mercedes, Horner: Hamilton Pernah Ingin Gabung Red Bull
Lewis Hamilton, Image @lewishamilton Instagram

fin.co.id - Lewis Hamilton ternyata pernah mempertimbangkan Red Bull sebagai tujuan berikutnya sebelum memutuskan meninggalkan McLaren dan bergabung dengan Mercedes pada 2013. Fakta tersebut diungkapkan mantan bos Red Bull, Christian Horner, yang mengaku sempat mengadakan pertemuan rahasia dengan pembalap asal Inggris itu.

Pengakuan Horner muncul dalam autobiografinya yang berjudul Drive. Dalam buku tersebut, ia menceritakan bagaimana peluang merekrut Hamilton sempat terbuka, bahkan sebelum sang pembalap memulai periode paling sukses dalam kariernya bersama Mercedes.

Pertemuan Rahasia Hamilton dan Red Bull

Menurut Horner, Hamilton mulai kehilangan keyakinan terhadap situasinya di McLaren menjelang akhir musim 2012. Hubungannya dengan rekan setimnya, Jenson Button, disebut terlihat kurang harmonis. Sejumlah masalah mekanis yang dialaminya sepanjang musim juga turut memengaruhi situasi tersebut.

Horner mengaku sempat menerima sinyal bahwa Hamilton mungkin sedang mempertimbangkan perubahan arah karier. Salah satu petunjuknya datang ketika ia melihat nomor telepon ayah Hamilton muncul dalam daftar panggilan di ponselnya.

Kecurigaan itu kemudian mengarah pada sebuah pertemuan yang melibatkan Hamilton, Horner, dan Adrian Newey, sosok penting di balik rancangan mobil-mobil Red Bull. Pertemuan tersebut berlangsung di rumah Newey dekat Ascot, Inggris.

Dalam pertemuan itu, Hamilton dikabarkan secara langsung menanyakan kemungkinan bergabung dengan tim yang berbasis di Milton Keynes tersebut.

Horner mengungkapkan bahwa Hamilton ingin mengetahui persyaratan yang diperlukan untuk menjadi bagian dari Red Bull. Newey disebut sangat antusias mendengar kemungkinan tersebut karena kehadiran Hamilton berpotensi menciptakan duet yang sangat kuat bersama Sebastian Vettel.

Pada saat itu, Vettel merupakan andalan Red Bull yang telah meraih gelar juara dunia Formula 1 secara beruntun. Memasangkan pembalap Jerman tersebut dengan Hamilton, yang sudah menjadi juara dunia pada 2008, tentu menjadi prospek menarik dari sisi persaingan maupun kekuatan tim.

Mengapa Red Bull Tidak Merekrut Hamilton?

Meskipun tertarik dengan potensi Hamilton, Red Bull pada akhirnya tidak melanjutkan upaya perekrutan tersebut secara serius. Horner menyebut besarnya biaya yang dibutuhkan menjadi salah satu hambatan utama.

Menurut pengakuannya, pembicaraan mengenai kontrak Hamilton melibatkan tuntutan finansial yang sangat besar. Nilai kesepakatan tersebut diperkirakan akan menjadi investasi signifikan bagi Red Bull.

Horner juga menyinggung peran Simon Fuller, yang saat itu menjadi bagian dari tim perwakilan Hamilton. Fuller disebut melihat peluang kerja sama tersebut sebagai kesepakatan komersial besar yang berpotensi menghasilkan nilai tinggi bagi semua pihak yang terlibat.

Dari sisi pemasaran, Hamilton memang memiliki daya tarik yang kuat. Sejak menjalani debut Formula 1 bersama McLaren pada 2007, ia telah membangun reputasi sebagai salah satu pembalap paling cepat dan populer di grid.

Horner menilai Hamilton memiliki kombinasi kemampuan balap, kecepatan, keberanian dalam kondisi lintasan basah, serta daya tarik komersial yang sangat besar. Karakteristik tersebut membuatnya menjadi kandidat ideal untuk memperkuat Red Bull.

Berita Terkait