Balap . 23/10/2026, 13:52 WIB
Penulis : Makruf | Editor : Makruf
fin.co.id - Alex Marquez menilai jadwal MotoGP semakin membebani para pembalap, terutama dengan penerapan sprint race di setiap akhir pekan balapan. Pembalap Gresini Racing itu meminta penyelenggara mempertimbangkan pengurangan jumlah sprint race demi menjaga keselamatan dan memperpanjang karier para pembalap, khususnya generasi muda.
Menurut Alex, tuntutan untuk terus tampil maksimal di lintasan semakin tinggi. Kecepatan motor yang terus meningkat, risiko kecelakaan, serta bertambahnya jumlah sesi kompetitif membuat pembalap harus menghadapi tekanan fisik dan mental yang tidak sedikit.
Sprint race diperkenalkan MotoGP pada 2023 sebagai upaya meningkatkan daya tarik akhir pekan balapan. Berbeda dengan Formula 1 yang menerapkan sprint pada sejumlah seri tertentu, MotoGP menggelar balapan sprint di setiap putaran kalender.
Format tersebut membuat pembalap harus menjalani dua balapan dalam satu akhir pekan, yakni sprint race pada Sabtu dan balapan utama pada Minggu. Dengan jumlah seri yang banyak, total balapan dalam satu musim pun meningkat secara signifikan.
Alex menilai pendekatan tersebut perlu dievaluasi. Ia berpandangan bahwa peningkatan tontonan tidak seharusnya mengorbankan keselamatan pembalap yang harus terus memacu motor hingga batas kemampuan.
"Saya pikir mereka meminta terlalu banyak dari para pembalap, terutama dalam hal usaha yang harus dikeluarkan di lintasan," ujar Alex, seperti dikutip Crash.net dari GPOne.
Ia juga menyoroti peningkatan risiko yang muncul ketika pembalap harus terus melaju semakin cepat dan menjalani lebih banyak putaran dalam kondisi kompetitif.
Bagi Alex, persoalan ini bukan semata-mata tentang kelelahan. Semakin banyak kesempatan untuk bertarung dalam kecepatan tinggi juga berarti semakin besar paparan terhadap risiko kecelakaan.
Alex secara khusus menghubungkan bertambahnya sprint race dengan meningkatnya kekhawatiran mengenai cedera di MotoGP. Dalam balapan dengan jarak lebih pendek, pembalap biasanya dituntut langsung tampil agresif sejak awal karena kesempatan untuk memperbaiki posisi sangat terbatas.
Situasi tersebut dapat membuat persaingan berlangsung ketat sejak lap pertama. Ketika banyak pembalap berusaha merebut posisi dalam waktu singkat, ruang untuk melakukan kesalahan menjadi semakin kecil.
Meski demikian, risiko kecelakaan tidak hanya ditentukan oleh format sprint race. Kecepatan motor, kondisi lintasan, karakteristik sirkuit, cuaca, serta keputusan pembalap juga memengaruhi tingkat keselamatan. Karena itu, hubungan antara sprint race dan cedera perlu dinilai berdasarkan data kecelakaan secara menyeluruh.
Alex tetap berpandangan bahwa penambahan jumlah balapan kompetitif harus disertai pertimbangan yang lebih serius terhadap kondisi pembalap.
Kekhawatiran itu semakin relevan karena MotoGP juga merencanakan perubahan format pada 2027. Format baru tersebut dijadwalkan menghadirkan sesi kualifikasi sprint, sehingga tuntutan selama akhir pekan balapan berpotensi semakin besar.
Network:
FinNews.id |
Radarpena.co.id |
IKNPos.id
PT.Portal Indonesia Media