Balap

Mayoritas Rider MotoGP Tolak Balapan di Qatar

Mayoritas rider MotoGP dikabarkan menolak rencana penyelenggaraan Grand Prix Qatar pada November 2026. Penolakan tersebut mencuat setelah muncul laporan mengenai

Mayoritas Rider MotoGP Tolak Balapan di Qatar
MotoGP, Image: @motogp / Instagram

fin.co.id - Mayoritas rider MotoGP dikabarkan menolak rencana penyelenggaraan Grand Prix Qatar pada November 2026. Penolakan tersebut mencuat setelah muncul laporan mengenai pemungutan suara rahasia yang digelar dalam pertemuan para rider di Phillip Island, Australia, di tengah meningkatnya ketegangan konflik di Timur Tengah.

Menurut laporan The Race yang dikutip Crash.net, sekitar dua pertiga rider yang mengikuti pertemuan tersebut memilih menentang rencana balapan di Qatar. Kekhawatiran terhadap situasi keamanan menjadi salah satu faktor utama yang memengaruhi sikap mereka menjelang putaran ke-20 MotoGP 2026.

Voting Rahasia Digelar di Phillip Island

Pertemuan yang berlangsung pada Kamis menjelang Grand Prix Australia itu dilaporkan melibatkan seluruh rider MotoGP. Mereka membahas rencana untuk tetap menggelar balapan di Sirkuit Lusail, Qatar, pada 6-8 November 2026.

Hasil pemungutan suara tersebut menunjukkan bahwa mayoritas rider tidak mendukung keberangkatan ke Qatar dalam situasi saat ini. Meski demikian, laporan mengenai voting rahasia itu belum tentu mengubah keputusan penyelenggara, karena hasil pertemuan tersebut tidak secara otomatis menentukan kelanjutan sebuah seri balapan.

Pada Kamis, sejumlah rider yang ditanya mengenai rencana tersebut menyatakan kesediaan untuk tampil apabila keselamatan mereka dapat dijamin. Namun, jaminan keamanan menjadi persoalan utama karena situasi geopolitik di kawasan Timur Tengah masih berkembang.

MotoGP Masih Berencana Menggelar GP Qatar

MotoGP sebelumnya menjadwalkan Grand Prix Qatar pada April 2026. Namun, balapan tersebut ditunda hingga 6-8 November akibat perang Iran dan meningkatnya ketegangan di kawasan tersebut.

Hingga laporan Crash.net diterbitkan, MotoGP masih mempertahankan rencana untuk menggelar balapan sesuai jadwal. Formula 1, yang juga berada di bawah kepemilikan Liberty Media, turut mempertahankan rencana penyelenggaraan seri-seri Timur Tengah.

Pihak Sirkuit Lusail juga menyampaikan bahwa persiapan untuk menggelar rangkaian acara pada November telah memasuki tahap akhir. Meski demikian, kesiapan fasilitas tidak serta-merta menghilangkan kekhawatiran mengenai keamanan perjalanan dan kondisi kawasan.

Situasi tersebut menjadi semakin rumit setelah muncul laporan mengenai serangan terhadap infrastruktur sipil di Arab Saudi yang dikaitkan dengan kelompok Houthi yang didukung Iran. Sejumlah pemerintah juga mengeluarkan imbauan perjalanan yang memperingatkan warganya mengenai risiko keamanan di kawasan tersebut.

Sejumlah Penyiar Pertimbangkan Tidak Datang ke Qatar

Ketidakpastian mengenai kondisi keamanan juga memengaruhi rencana perjalanan sejumlah penyiar MotoGP. Beberapa stasiun televisi dilaporkan mulai mempertimbangkan untuk tidak mengirimkan kru langsung ke Qatar jika balapan tetap berlangsung.

Penyiar asal Belanda, Ziggo Sport, disebut menjadi salah satu pihak yang menyesuaikan rencana perjalanan. Sementara itu, TNT Sports dari Inggris juga diperkirakan akan menggunakan studio di London untuk menyiarkan dan membahas balapan, alih-alih mengirimkan tim ke Qatar.

Selain risiko keselamatan, potensi gangguan wilayah udara juga menjadi perhatian. Jika konflik kembali meningkat, perjalanan udara menuju dan dari kawasan Timur Tengah berpotensi mengalami pembatasan atau perubahan rute, seperti yang terjadi pada periode sebelumnya.

Berita Terkait