Belajar dari Konflik dengan Rossi, Marc Marquez Tegaskan Sikap soal Media
Marc Marquez menegaskan bahwa dirinya tidak akan menggunakan kekuatan media untuk menyerang atau menjatuhkan rival di MotoGP. Juara dunia tersebut mengakui
fin.co.id - Marc Marquez menegaskan bahwa dirinya tidak akan menggunakan kekuatan media untuk menyerang atau menjatuhkan rival di MotoGP. Juara dunia tersebut mengakui bahwa media dapat dimanfaatkan untuk kepentingan pribadi, tetapi ia tidak ingin menjadikannya senjata untuk merugikan orang lain. Pernyataan ini kembali mengingatkan publik pada perseteruannya dengan Valentino Rossi yang memanas pada 2015.
Marc Marquez Tak Ingin Menyerang Rival Lewat Media
Dalam wawancara dengan Autosport yang dipublikasikan pada 22 Oktober 2026, Marc Marquez menjelaskan pandangannya mengenai pengaruh media dalam persaingan olahraga. Menurutnya, kekuatan untuk memengaruhi opini publik merupakan sesuatu yang terbentuk dari reputasi dan perjalanan karier seseorang.
Marquez mengakui bahwa media bisa digunakan untuk kepentingan pribadi. Namun, ia membedakan antara memanfaatkan pemberitaan untuk mendukung dirinya sendiri dan menggunakannya untuk menyerang pembalap lain.
"Tapi saya tidak akan pernah menggunakan kekuatan media untuk menyerang seseorang," ujar Marquez.
Ia juga menjelaskan bahwa dirinya mungkin memanfaatkan media untuk kepentingannya sendiri, termasuk menjaga situasi tetap tenang. Meski demikian, ia tidak ingin menggunakan pengaruh tersebut untuk merugikan pihak lain.
Sikap ini menjadi menarik karena Marquez pernah terlibat dalam salah satu konflik paling terkenal dalam sejarah modern MotoGP. Perseteruannya dengan Rossi pada 2015 tidak hanya memengaruhi persaingan di lintasan, tetapi juga memicu perdebatan panjang di kalangan penggemar dan media.
Baca Juga
Konflik Sepang 2015 yang Membekas dalam Sejarah MotoGP
Perseteruan Marquez dan Rossi mencapai puncaknya menjelang akhir musim MotoGP 2015. Saat itu, Rossi menuduh Marquez berusaha menghalangi langkahnya dalam perebutan gelar juara dunia dan membantu Jorge Lorenzo menjadi juara.
Ketegangan tersebut semakin besar ketika keduanya bertemu dalam balapan MotoGP Malaysia di Sepang. Rossi dan Marquez terlibat persaingan sengit sebelum keduanya bersenggolan. Insiden itu berakhir dengan Marquez terjatuh, sementara Rossi mendapat hukuman penalti poin dari otoritas balap.
Akumulasi penalti tersebut membuat Rossi harus memulai balapan penutup musim di Valencia dari posisi paling belakang. Ia berhasil menyelesaikan balapan di posisi keempat, tetapi Lorenzo finis di posisi pertama dan memastikan gelar juara dunia.
Peristiwa itu menjadi salah satu momen paling kontroversial dalam karier kedua pembalap. Perdebatan mengenai insiden Sepang terus berlangsung, bahkan setelah Rossi pensiun dari MotoGP pada akhir musim 2021.
Baca Juga
Dampaknya tidak terbatas pada persaingan di lintasan. Hubungan keduanya juga diwarnai ketegangan dalam sejumlah kesempatan berikutnya. Pada 2018, misalnya, Marquez pernah mencoba berjabat tangan dengan Rossi dalam konferensi pers setelah insiden di Argentina, tetapi upaya tersebut ditolak.
Pengalaman tersebut menjadi bagian penting dari konteks ketika Marquez berbicara tentang kekuatan media. Meskipun tidak secara langsung menyebut konflik masa lalu sebagai alasan pernyataannya, pandangannya menunjukkan bahwa ia tidak ingin menjadikan pemberitaan sebagai alat untuk menyerang rival.