Performa gemilang berlanjut di semifinal saat menghadapi Arsenal. Donnarumma mencatatkan 10 penyelamatan sepanjang dua leg, termasuk dua momen penting saat menghalau tembakan berbahaya dari Gabriel Martinelli dan Bukayo Saka di leg kedua. Meski kebobolan, ia tetap mampu menjaga kestabilan lini belakang PSG dan membawa timnya lolos dengan agregat 3-1.
Berdasarkan data dari FootyStats, Donnarumma mengoleksi lima clean sheet dari 14 penampilan di Liga Champions musim ini dengan rasio penyelamatan sebesar 70,45%. Dengan konsistensi dan fokus yang tak tergoyahkan, ia kini menjadi kandidat kuat peraih Yashin Trophy 2025. Final mendatang akan menjadi debutnya di partai puncak UCL — momen ideal untuk membuktikan dirinya sebagai salah satu penjaga gawang terbaik dunia.
Sementara itu, Yann Sommer membuktikan bahwa usia bukan halangan untuk tampil di level tertinggi. Kiper asal Swiss yang kini berusia 36 tahun, menunjukkan performa luar biasa bersama Inter Milan. Di semifinal melawan Barcelona, Sommer mencatat tujuh penyelamatan di leg pertama, meski sempat melakukan gol bunuh diri. Namun di leg kedua, ia tampil heroik dengan menggagalkan dua peluang emas dari Lamine Yamal di babak tambahan, yang berperan besar dalam kemenangan 4-3 Inter.
Sepanjang fase liga, Sommer menjaga gawangnya tetap bersih dalam tujuh dari delapan pertandingan, hanya kebobolan sekali — catatan yang menegaskan konsistensinya sepanjang musim.
Meski secara fisik tak sebesar Donnarumma, Sommer unggul dalam membaca permainan dan memiliki kemampuan distribusi bola yang impresif. Ia mencatat 395 umpan sukses dari 14 pertandingan, memperlihatkan kontribusinya dalam membangun serangan dari lini belakang.
Keandalannya di laga-laga penting membuat banyak pihak menyebutnya sebagai salah satu kiper paling underrated di Eropa. Meski ini bukan final UCL pertamanya, pengalaman di partai besar dan ketenangannya akan menjadi senjata kunci dalam menghadapi tekanan lini serang PSG yang diisi pemain cepat seperti Ousmane Dembélé dan Vitinha.