Andorra, Belarusia, Bulgaria, Siprus, Estonia, Gibraltar, Yunani, Kazakhstan, Latvia, Liechtenstein, Lituania, Luksemburg, Malta, dan Montenegro.
Kegagalan Yunani dan Bulgaria menjadi salah satu kejutan, mengingat keduanya memiliki sejarah panjang di turnamen besar.
Gambaran Umum Kualifikasi
Format kualifikasi Piala Dunia 2026 menyesuaikan dengan peningkatan jumlah peserta menjadi 48 tim. Setiap konfederasi mendapatkan tambahan kuota, tetapi hal itu juga berarti persaingan menjadi lebih merata dan ketat di setiap wilayah.
Distribusi tiket resmi:
-
AFC: 8 tiket langsung + 1 play-off antar-konfederasi
-
CAF: 9 tiket langsung + 1 play-off antar-konfederasi
-
Concacaf: 6 tiket langsung + 2 play-off antar-konfederasi
-
CONMEBOL: 6 tiket langsung + 1 play-off antar-konfederasi
-
OFC: 1 tiket langsung + 1 play-off antar-konfederasi
-
UEFA: 16 tiket langsung
Dengan total 48 peserta di putaran final, sistem ini membuka peluang lebih besar bagi negara-negara baru. Namun, tetap saja, hanya mereka yang mampu tampil konsisten dari awal hingga akhir yang bisa memastikan tempat di Piala Dunia.
Negara Besar yang Mengecewakan
Beberapa nama besar yang gagal lolos kali ini menimbulkan kehebohan di kalangan penggemar sepak bola. Cile dan Yunani, misalnya, disebut-sebut sebagai contoh betapa cepat dinamika sepak bola berubah.
Asia pun tak luput dari kejutan. Kegagalan Tiongkok dan Indonesia menjadi pembicaraan hangat, terutama karena keduanya mendapat dukungan besar di fase awal kualifikasi. Meski begitu, kegagalan ini bisa menjadi bahan evaluasi berharga untuk siklus berikutnya.
Harapan ke Depan
Meski banyak negara yang tersingkir di kualifikasi Piala Dunia, peluang mereka untuk bangkit di masa depan masih terbuka. Siklus baru akan dimulai tidak lama setelah Piala Dunia 2026 berakhir, memberi kesempatan bagi tim-tim tersebut untuk membangun kembali skuad mereka dan memperkuat fondasi sepak bola nasional.
Penutup
Dengan total lebih dari 120 negara harus angkat kaki lebih awal, kualifikasi menuju Piala Dunia 2026 sekali lagi membuktikan betapa ketatnya persaingan di level internasional. Setiap wilayah memiliki cerita sendiri, mulai dari kemenangan dramatis hingga kekalahan pahit.
Namun bagi para negara yang tersingkir di kualifikasi Piala Dunia, perjalanan ini bukan akhir, melainkan awal dari perjuangan baru menuju mimpi empat tahun berikutnya.