Bola . 09/12/2025, 09:31 WIB
Penulis : Derry Sutardi | Editor : Derry Sutardi
Protes dari suporter
Ketegangan antarpemain
Aksi simbolik di lapangan
Tekanan politik terhadap federasi sepak bola kedua negara
Jika situasi ini tak dikelola dengan baik, bukan tidak mungkin laga tersebut justru menjadi sumber konflik, bukan perayaan persatuan seperti yang diharapkan FIFA.
Publik juga masih mengingat polemik besar soal simbol LGBTQ+ di Piala Dunia 2022 Qatar. Saat itu, beberapa negara Eropa seperti Inggris, Jerman, dan Belanda berencana menggunakan ban kapten pelangi “One Love” sebagai simbol dukungan terhadap komunitas LGBTQ+.
Namun rencana tersebut ditentang keras oleh Qatar yang secara hukum melarang simbol dan aktivitas LGBTQ+. Akibatnya, sejumlah tim mengurungkan niat mereka setelah FIFA mengancam sanksi.
Salah satu momen paling ikonik kala itu adalah aksi tutup mulut Timnas Jerman sebelum laga, sebagai bentuk protes terhadap larangan simbol tersebut.
Kini, banyak pihak khawatir kontroversi serupa akan kembali terulang di Piala Dunia 2026, bahkan dalam skala yang lebih besar.
Dari sisi FIFA, komitmen terhadap keberagaman dan inklusivitas memang menjadi salah satu nilai utama organisasi tersebut.
Namun kritik muncul karena pendekatan yang dilakukan dianggap tidak mempertimbangkan konteks sosial, budaya, dan hukum negara peserta.
Sejumlah pengamat menilai bahwa:
FIFA terlalu memaksakan standar Barat
Tidak cukup sensitif terhadap nilai-nilai keagamaan
Berisiko memicu konflik diplomatik
Hingga saat ini, belum ada pernyataan resmi dari federasi sepak bola Mesir maupun Iran terkait status “Pride Match” ini. Namun banyak pihak memprediksi akan ada:
Protes diplomatik
Permintaan pergantian status pertandingan
Desakan pengamanan ekstra ketat
Jika protes menguat, bukan tidak mungkin FIFA akan kembali berada dalam posisi sulit seperti yang terjadi di Qatar 2022.
Network:
FinNews.id |
Radarpena.co.id |
IKNPos.id
PT.Portal Indonesia Media