Asosiasi Suporter Sepak Bola Inggris bahkan menyebut harga tiket final Piala Dunia 2026 sebagai “tamparan di muka” bagi para pendukung setia yang selama ini mengikuti tim nasional mereka ke berbagai turnamen.
Hingga berita ini diturunkan, FIFA belum memberikan pernyataan resmi terkait gelombang protes tersebut.
Harga Tiket Ditentukan Popularitas Tim
Menariknya, FIFA juga menerapkan sistem baru dalam penentuan harga tiket fase grup. Tidak seperti edisi sebelumnya yang menggunakan harga tetap, kini harga tiket ditentukan berdasarkan tingkat popularitas tim.
Akibatnya, suporter Inggris harus membayar tiket lebih mahal dibandingkan pendukung Skotlandia. Namun, FIFA belum menjelaskan secara rinci bagaimana metode pengukuran popularitas tersebut dilakukan.
Sebagai contoh:
-
Tiket laga Inggris vs Kroasia dibanderol mulai 198 pounds (Rp 4,4 juta) hingga 523 pounds (Rp 11,6 juta).
-
Pertandingan Inggris vs Ghana dijual di kisaran Rp 3,6 juta–Rp 9,9 juta.
-
Sementara laga awal Skotlandia vs Haiti dan Maroko hanya dibanderol mulai Rp 2,9 juta.
Biaya Nonton Bisa Tembus Rp 275 Juta
Untuk fase gugur, harga tiket pun tak kalah mencengangkan. Tiket perempat final berada di kisaran Rp 11,3 juta–Rp 24 juta, sementara semifinal dijual mulai Rp 15,2 juta hingga Rp 52,6 juta.
Jika seorang suporter ingin menonton seluruh delapan pertandingan tim nasionalnya dari fase grup hingga final, ia harus menyiapkan dana minimal Rp 116,4 juta dan bisa membengkak hingga Rp 275,3 juta, tergantung kategori tiket.
Baca Juga
Sebagai perbandingan, di Piala Dunia 2022 Qatar, biaya menonton tujuh pertandingan hanya berkisar Rp 32,6 juta–Rp 87,2 juta.
Keluh Kesah Suporter
Sejumlah suporter menyampaikan kekecewaannya secara terbuka. Luke Buxton, pendukung timnas Inggris, mengaku merasa dikhianati.
“Ini benar-benar keterlaluan. Kami merasa dikhianati sebagai suporter setia,” ujarnya kepada BBC Radio 5 Live.