fin.co.id - Skandal naturalisasi Timnas Malaysia kembali memanas. Setelah FIFA menjatuhkan sanksi tambahan kepada Harimau Malaya dan Federasi Sepak Bola Malaysia (FAM), nama Tunku Ismail Idris (TMJ) kembali menjadi sorotan.
Anak Sultan Johor itu dinilai belum kapok menyenggol Indonesia, bahkan disebut mencoba mengalihkan isu dengan menyemprot wartawan di negaranya sendiri.
Kasus yang semula dianggap selesai, kini justru memasuki babak baru dengan tensi yang makin tinggi, baik di dalam maupun luar lapangan.
FIFA secara resmi menjatuhkan sanksi terkait penggunaan pemain tidak sah dalam proses naturalisasi. Sanksi tersebut berdampak langsung pada tiga laga uji coba resmi Timnas Malaysia, yakni melawan Palestina, Tanjung Verde, dan Singapura.
Akibat pelanggaran tersebut, Malaysia dinyatakan kalah 0-3 pada ketiga pertandingan tersebut. Sementara itu, FAM hanya dijatuhi denda tanpa sanksi administratif tambahan yang lebih berat.
Baca Juga
Meski sudah diputus FIFA, federasi sepak bola Malaysia tampak tidak bergeming. Fokus utama kini diarahkan ke Pengadilan Arbitrase Olahraga (CAS), tempat Malaysia menggugat keputusan FIFA.
Sebagaimana diketahui, 18 Desember menjadi batas akhir bagi Malaysia untuk melengkapi dokumen yang diajukan ke CAS.
Namun menariknya, TMJ justru memilih bungkam dan tidak memberikan pernyataan resmi setelah tenggat waktu tersebut berlalu.
Respons terakhir TMJ justru menimbulkan kontroversi. Ia mempertanyakan kompetensi FIFA serta keabsahan data yang dijadikan dasar penjatuhan sanksi.
Baca Juga
TMJ Singgung Indonesia Lagi, Pertanyakan Dokumen FIFA
Alih-alih meredam situasi, Tunku Ismail Idris kembali menyenggol Indonesia. Ia mempertanyakan keabsahan dokumen FIFA dan membandingkannya dengan dokumen kewarganegaraan yang dikeluarkan lembaga negaranya sendiri.
“Mengapa dokumen mereka (FIFA) benar? Mengapa kita tidak benar?”
“Jika dokumen kita tidak benar, itu berarti kalian semua bukan warga negara Malaysia.”
“Kalian mungkin warga negara Indonesia,” ujar TMJ.
Pernyataan tersebut langsung menuai reaksi keras, terutama karena dianggap menyudutkan Indonesia yang sebelumnya juga kerap dikaitkan dalam polemik naturalisasi pemain Asia Tenggara.