“Konsensus akhirnya bergeser ke arah ‘pengorbanan massal’ untuk melindungi masa depan liga domestik dan tim nasional,” tulis NST lagi.
Keputusan ini diambil demi memastikan liga Malaysia tetap berjalan dan tim nasional tidak tersingkir dari agenda internasional.
Skandal Naturalisasi
Akar persoalan FAM berawal dari skandal naturalisasi pemain keturunan palsu yang menyeret nama Malaysia ke sorotan global.
Kasus ini membuka banyak fakta gelap terkait proses perekrutan pemain asing yang dinaturalisasi tanpa dasar dokumen yang sah.
Dalam skandal tersebut, tujuh pemain dari sejumlah negara Eropa hingga Amerika Latin terbukti tidak memenuhi syarat sebagai pemain keturunan Malaysia.
FIFA pun menjatuhkan sanksi tegas berupa larangan aktivitas sepak bola selama satu tahun serta denda finansial kepada para pemain terkait.
Baca Juga
Kasus ini mencoreng reputasi FAM dan memicu pengawasan ketat dari FIFA serta AFC terhadap tata kelola sepak bola Malaysia.
Meski pengunduran diri Exco dianggap solusi darurat, ancaman belum sepenuhnya berakhir. FAM masih harus menghadapi potensi proses hukum di Pengadilan Arbitrase Olahraga (CAS), yang dapat membuka babak baru dalam kasus ini.
Situasi menjadi semakin genting karena kurang dari dua bulan lagi Malaysia akan tampil di Kualifikasi Piala Asia 2027. Jika sanksi dijatuhkan dalam periode tersebut, dampaknya akan sangat besar, mulai dari pembekuan federasi hingga pencoretan dari kompetisi internasional.
Tak heran jika AFC disebut “setengah mati” menjaga agar Malaysia tetap berada dalam sistem, setidaknya sampai reformasi internal benar-benar berjalan.
Baca Juga
Pengunduran diri massal Exco FAM akan menjadi salah satu peristiwa paling dramatis dalam sejarah sepak bola Malaysia.
Langkah ini memang pahit, tetapi dianggap sebagai harga yang harus dibayar untuk menyelamatkan federasi dari kehancuran total.
Kini, publik menanti langkah lanjutan FIFA dan AFC, sekaligus berharap reformasi yang dijanjikan FAM benar-benar terjadi, bukan sekadar strategi untuk lolos dari sanksi.
Skandal naturalisasi ini bukan hanya soal pemain keturunan palsu, tetapi juga menjadi cermin rapuhnya tata kelola sepak bola Malaysia—dan peringatan keras bagi federasi lain di Asia. (*)