Hubungan Messi dengan Joan Laporta juga menjadi faktor penting dalam cerita ini.
Pada pemilu sebelumnya tahun 2021, Messi memang tidak menyampaikan dukungan secara terbuka.
Namun, saat itu ia masih berstatus pemain dan kapten tim, serta memiliki hubungan baik dengan Laporta dari periode pertama kepemimpinan sang presiden.
Situasi berubah drastis ketika janji perpanjangan kontrak Messi gagal terwujud.
Messi merasa dikecewakan dan hubungan keduanya merenggang.
Upaya Barcelona untuk memulangkan Messi dua tahun kemudian pun tidak berjalan mulus dan justru memperdalam jarak antara kedua belah pihak.
Baca Juga
Sejak saat itu, Messi memilih bersikap dingin dan menjaga jarak dari manajemen klub.
Menunggu Waktu yang Tepat
Meski relasi dengan Laporta memburuk, Messi tidak ingin menjadikan pemilu sebagai ajang balas dendam politik.
Ia memilih menunggu hasil pemilihan dan melihat bagaimana arah baru Barcelona setelah itu.
Barulah setelah Piala Dunia berlalu dan situasi klub lebih jelas, Messi akan mulai memikirkan secara serius bagaimana dan kapan ia kembali ke Barcelona.
Baca Juga
Sikap ini mencerminkan kedewasaan Messi dalam memisahkan urusan emosional, profesional, dan politik.
Ia tidak ingin namanya digunakan sebagai alat kampanye, sekaligus tidak ingin merusak peluang kembalinya sendiri di masa depan.
Kesimpulan
Messi memang masih menyimpan rencana untuk kembali ke Barcelona, tetapi waktunya belum sekarang.