Bola . 27/02/2026, 18:00 WIB
Penulis : Derry Sutardi | Editor : Derry Sutardi
Menariknya, Wan-Bissaka dan Tuanzebe tetap tampil membela RD Kongo di ajang Piala Afrika 2025 di Maroko. Fakta ini justru memperkuat keyakinan RD Kongo bahwa status pemain mereka sah menurut regulasi FIFA.
Hingga kini, Komite Disiplin FIFA masih menelaah dokumen dan argumen kedua belah pihak.
FIFA Belum Putuskan Apa Pun
Di tengah rumor yang beredar luas di media sosial, Direktur Komunikasi NFF, Demola Olajire, meluruskan kabar yang berkembang.
Ia menegaskan bahwa FIFA belum menyampaikan keputusan apa pun, baik kepada Nigeria maupun RD Kongo.
Artinya, status kelolosan RD Kongo masih aman untuk sementara. Namun ketidakpastian ini jelas memengaruhi persiapan menuju play-off antarkonfederasi.
Jika RD Kongo dinyatakan bersalah, Nigeria berpotensi menggantikan posisi mereka dan melaju ke babak berikutnya. Super Eagles bahkan bisa saja tampil di putaran final Piala Dunia 2026 yang kini diikuti 48 tim format baru yang memperluas peluang negara peserta.
Ancaman Pukulan Telak bagi RD Kongo
Bagi RD Kongo, potensi sanksi akan menjadi pukulan berat. Mereka dijadwalkan menghadapi pemenang antara Kaledonia Baru atau Jamaika pada Maret mendatang dalam play-off terakhir.
Jika dicoret, kerja keras di lapangan bisa hilang begitu saja akibat persoalan administratif.
Isu Keamanan Bayangi Piala Dunia 2026
Di luar polemik Afrika, persiapan Piala Dunia FIFA 2026 juga dibayangi isu keamanan di Amerika Utara.
Di Amerika Serikat, laporan media menyebut 2025 menjadi tahun paling mematikan dalam dua dekade bagi lembaga Imigrasi dan Bea Cukai (ICE), dengan puluhan kematian dalam tahanan. Sementara di Meksiko, peningkatan kekerasan kartel setelah tewasnya seorang pemimpin geng memicu spekulasi soal potensi relokasi pertandingan.
Meski begitu, FIFA tetap menyatakan komitmennya pada rencana awal. Seorang juru bicara FIFA menegaskan bahwa keselamatan dan keamanan tetap menjadi prioritas utama, serta menyatakan kepercayaan penuh kepada tiga negara tuan rumah.
Relokasi pertandingan disebut hanya akan menjadi “opsi terakhir” jika ada ancaman serius dari otoritas keamanan.
Network:
FinNews.id |
Radarpena.co.id |
IKNPos.id
PT.Portal Indonesia Media