Bagnaia bahkan mengakui bahwa Bezzecchi memiliki keunggulan signifikan atas para rivalnya saat ini. Ia menyebut Aprilia terlihat “sangat cepat” dan memiliki jarak yang jelas dibandingkan kompetitor lain.
Selain Bezzecchi, beberapa nama lain juga tampil solid. Ducati masih memiliki wakil di Q2 melalui Marc Marquez, Alex Marquez, serta Fabio Di Giannantonio. Sementara itu, Honda dan KTM masing-masing berhasil menempatkan dua motor di sesi perebutan pole position pertama musim ini.
Dominasi Aprilia pada hari pertama menjadi sinyal bahwa persaingan 2026 bisa lebih terbuka dibanding musim sebelumnya.
Tekanan di Awal Musim
Gagal lolos langsung ke Q2 bukan akhir dari segalanya, tetapi ini jelas bukan start ideal bagi seorang kandidat juara. Format akhir pekan MotoGP modern membuat sesi Jumat menjadi sangat krusial. Kesalahan kecil bisa memaksa pembalap melalui jalur yang lebih berat di Q1.
Namun yang menarik adalah respons Bagnaia. Ia tidak menyalahkan tim, cuaca, atau faktor eksternal. Ia secara lugas mengatakan bahwa ia tidak mampu memaksimalkan situasi.
Sikap tersebut bisa menjadi modal penting untuk bangkit. Dalam kejuaraan yang panjang, konsistensi mental sering kali lebih menentukan daripada satu hasil buruk di awal musim.
Baca Juga
MotoGP Thailand baru memasuki tahap awal, tetapi drama sudah tercipta. Apakah Bagnaia mampu membalikkan keadaan? Atau justru Aprilia akan mengukuhkan dominasi sejak seri pembuka?
Jawabannya akan terungkap pada sesi kualifikasi dan balapan akhir pekan ini.
Referensi:
Crash.net – “Pecco Bagnaia explains disaster start to 2026 MotoGP season in practice”