fin.co.id - Musim Formula 1 2026 telah menjadi bukti bahwa Lewis Hamilton mampu bangkit setelah menghadapi periode sulit. Setelah generasi mobil ground effect diperkenalkan, performa Mercedes tidak lagi dominan seperti saat transisi ke mesin V6 turbo hybrid pada 2014 atau perubahan aerodinamika besar pada 2017.
Hamilton pun mengalami musim tanpa kemenangan pada 2022, setelah sebelumnya gagal meraih gelar kedelapan dalam situasi kontroversial. Meski demikian, ia tetap konsisten finis podium, menunjukkan kualitas yang belum memudar.
Namun, tantangan terus berlanjut ketika Hamilton pindah ke Ferrari pada 2025. Meski tes awal di Maranello membangkitkan harapan, performanya di lintasan awal musim mengecewakan. Satu-satunya kemenangan sprint di China memberi sedikit tanda positif, tetapi tidak ada podium yang diraih hingga Ferrari memutuskan menghentikan pengembangan sementara untuk fokus pada proyek 2026.
Kritikan tajam dari media Inggris sempat mengancam reputasinya, bahkan ada yang menyebutnya “delusional” dan meminta segera pensiun. Hamilton menanggapi, “Tidak ada satu pun dari mereka yang telah melakukan apa yang saya lakukan, jadi mereka tidak tahu lebih banyak daripada saya.”
Paralel Dengan Valentino Rossi
Perjalanan Hamilton ini mengingatkan pada kisah Valentino Rossi di MotoGP setelah gelar dunia terakhirnya pada 2009. Rossi sempat menghadapi musim buruk setelah pindah ke Ducati pada 2011, tanpa kemenangan dan hanya beberapa podium dalam dua musim berikutnya.
Baca Juga
Banyak spekulasi tentang pensiunnya pun muncul. Namun, Rossi kembali ke Yamaha pada 2013 dan secara bertahap mengembalikan performa hingga finis runner-up pada 2014 dan menantang gelar dunia 2015.
Baik Hamilton maupun Rossi menghadapi penurunan saat karier mereka seharusnya berada di puncak. Rossi berusia 36 tahun saat kembali menantang gelar, sedangkan Hamilton kini 41 tahun, tetapi semangat untuk bersaing di level tertinggi tetap ada.
Kedua legenda ini menunjukkan bahwa masa sulit bukanlah akhir karier, melainkan tantangan untuk membuktikan kualitas dan ketahanan mental.
Kembalinya Hamilton di Ferrari 2026
Hamilton berhasil menampilkan performa impresif di awal musim 2026 bersama Ferrari. Ia mengaku menemukan kembali motivasi dan kesenangan mengendarai mobil baru, sesuatu yang sebelumnya diragukan ketika pindah ke tim Italia.
Baca Juga
Meski Mercedes masih memimpin dalam pengembangan mobil, Hamilton mampu menandingi rekan setimnya, Charles Leclerc, di banyak aspek.
Di Grand Prix Australia, Hamilton menunjukkan konsistensi tinggi dalam kualifikasi dan sprint race. Ia berhasil finis podium di China setelah pertarungan ketat dengan Leclerc, membuktikan bahwa fisik dan mentalnya “kembali ke performa terbaik.”
Para tokoh seperti Toto Wolff dan mantan insinyur Hamilton, Peter Bonnington, menegaskan bahwa kualitasnya tidak pernah diragukan. Kepala tim Ferrari, Fred Vasseur, menambahkan bahwa keterlibatan Hamilton sejak awal pengembangan SF-26 membuat adaptasinya lebih mudah dan hubungan kerja dengan tim lebih solid.