Tragis! Wasit Tarkam Tewas Dianiaya Suporter di Bogor, PSSI Soroti Hal Ini
Seorang wasit tarkam tewas dianiaya suporter di Bogor. PSSI soroti minimnya lisensi wasit dan desak aturan ketat turnamen antarkampung.
fin.co.id - Dunia sepak bola Indonesia kembali berduka setelah turnamen antarkampung (tarkam) kembali memakan korban jiwa. Seorang wasit dilaporkan meninggal dunia akibat dugaan penganiayaan oleh sekelompok suporter dalam pertandingan tarkam open di wilayah Sukajaya, Kabupaten Bogor, Jawa Barat.
Kabar duka mengenai meninggalnya sang pengadil lapangan tersebut dibenarkan oleh wasit nasional asal Depok, Rudi, pada Senin 11 Agustus 2026 malam. Hingga kini, pihak kepolisian dari Polres Bogor masih mendalami kasus ini dengan melakukan penyelidikan mendalam serta olah tempat kejadian perkara (TKP) guna mengungkap identitas korban serta kronologi lengkap kejadian.
Peristiwa berdarah ini langsung mendapat perhatian serius dari Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia (PSSI). Sekretaris Jenderal PSSI, Yunus Nusi, menyampaikan rasa prihatin yang mendalam atas kembalinya aksi kekerasan dalam ajang sepak bola tarkam.
Dalam keterangannya di Kemenpora, Senayan, Jakarta, Rabu 12 Agustus 2026, Yunus mengungkapkan bahwa pihaknya menemukan banyak pelanggaran mendasar dalam penyelenggaraan turnamen tersebut. Selain tidak mengantongi izin atau rekomendasi resmi, pertandingan itu ternyata dipimpin oleh wasit yang tidak memiliki lisensi resmi dari induk organisasi sepak bola nasional.
"Kami sangat prihatin dengan kejadian-kejadian tarkam seperti ini. Terinfo hari ini, ternyata wasit yang memimpin tidak memiliki lisensi. Kami juga mendapatkan informasi bahwa setiap tarkam tidak melaporkan dan tidak meminta rekomendasi dari PSSI, baik di tingkat provinsi maupun kabupaten/kota," tegas Yunus.
Baca Juga
Pentingnya Rekomendasi PSSI dan Standar Keselamatan
Menurut Yunus, rekomendasi resmi dari PSSI memegang peranan krusial untuk memastikan seluruh rangkaian pertandingan berjalan sesuai regulasi. Keberadaan rekomendasi tersebut juga berfungsi untuk menjamin bahwa wasit yang bertugas memiliki lisensi serta pemahaman mendalam mengenai aturan permainan yang berlaku.
PSSI menilai penggunaan wasit yang kompeten dan berlisensi mampu menekan potensi keributan di atas lapangan. Sebaliknya, laga yang dipimpin oleh wasit tanpa standar dan pengetahuan memadai justru memicu protes keras yang berujung pada aksi kekerasan.
"Kami berharap, apabila tidak ada rekomendasi dari PSSI, tarkam tersebut tidak diizinkan. Saya yakin wasit yang memimpin tidak berlisensi dan memenuhi standar sebuah pertandingan. Kalau wasit yang memimpin tidak mengetahui aturan dan regulasi, tentu akan berakibat kepada pertandingan yang dijalankan," tambahnya.
Baca Juga
Sebagai langkah antisipasi agar insiden serupa tidak terulang, PSSI mendesak seluruh jajaran pemerintah daerah, mulai dari tingkat provinsi, kabupaten/kota, kecamatan, hingga kepala desa dan lurah, agar proaktif berkoordinasi dengan PSSI sebelum menggelar turnamen sepak bola.
"Siapa pun, baik masyarakat, gubernur, bupati, wali kota, camat, kepala desa, maupun lurah, apabila melaksanakan event sepak bola, berkoordinasi dengan PSSI di tingkatannya. Ini menyangkut regulasi dan aturan yang harus diterapkan, termasuk terkait wasit yang akan memimpin pertandingan," pungkas Yunus.