Balap . 27/10/2026, 10:18 WIB
Penulis : Makruf | Editor : Makruf
fin.co.id - Pedro Acosta mengungkap alasan dirinya tidak mengambil kesempatan bergabung dengan tim VR46 Ducati pada MotoGP 2026. Rider asal Spanyol itu menilai kondisi dirinya saat masih mengalami masa sulit bersama KTM belum cukup mendukung untuk menghadapi tantangan baru. Menurutnya, jika tetap memaksakan pindah saat itu, hasil yang diraih kemungkinan tidak akan sesuai harapan.
Acosta kini bersiap menghadapi babak baru dalam kariernya. Mulai musim 2027, ia dijadwalkan memperkuat tim pabrikan Ducati dan menjadi rekan setim Marc Marquez. Kepindahan tersebut menjadi salah satu langkah besar dalam bursa transfer rider MotoGP, mengingat Acosta masih berada pada tahap membangun pengalaman di kelas utama.
Peluang Acosta meninggalkan KTM sebenarnya sudah muncul sebelum musim 2026. Ketika menghadapi periode sulit sepanjang 2025, ia sempat melakukan pembicaraan mengenai kemungkinan pindah ke VR46, tim yang menggunakan motor Ducati.
Situasi tersebut membuka kesempatan bagi Acosta untuk merasakan motor Ducati lebih awal. Namun, ia akhirnya memilih bertahan bersama KTM dan menjalani tahun terakhir dalam kontraknya.
Keputusan itu bukan tanpa pertimbangan. Acosta mengakui bahwa rasa frustrasi yang dibawanya dari musim sebelumnya dapat memengaruhi penampilannya apabila langsung berganti tim dan motor.
Dalam wawancara dengan media Spanyol AS, Acosta menjelaskan bahwa dirinya mungkin saja bisa mengendarai Ducati pada saat itu. Namun, ia merasa tidak akan mampu tampil maksimal karena masih terbebani berbagai kekecewaan yang dialaminya bersama KTM.
Pengakuan tersebut memperlihatkan bahwa perpindahan tim tidak selalu menjadi solusi instan bagi seorang rider. Selain kemampuan teknis, kesiapan menghadapi lingkungan baru dan kemampuan mengelola tekanan juga dapat memengaruhi proses adaptasi.
Acosta akhirnya melewati masa sulitnya bersama KTM dan mulai menunjukkan perkembangan dalam performa. Ia berhasil meraih kemenangan pertamanya pada musim 2026 di Austria, sebuah pencapaian penting dalam perjalanan kariernya di MotoGP.
Hasil tersebut menjadi salah satu tanda bahwa Acosta mulai menemukan kembali performa terbaiknya. Ia juga merasa mampu menunjukkan perbedaan melalui penampilannya dibandingkan rider lain yang menggunakan motor dari pabrikan yang sama.
Menurut Acosta, perubahan itu membuatnya menyadari bahwa dirinya sudah lebih siap menerima tantangan baru. Kesempatan bergabung dengan Ducati pun datang ketika ia merasa berada dalam kondisi yang lebih baik untuk mengambil langkah besar.
Ia menilai waktu menjadi faktor penting dalam menentukan keputusan karier. Pindah ke tim besar bukan hanya tentang memperoleh motor yang kompetitif, melainkan juga memastikan dirinya mampu memanfaatkan kesempatan tersebut.
Dengan bertahan di KTM selama satu musim tambahan, Acosta mendapatkan waktu untuk memperbaiki performa sekaligus melewati periode frustrasi yang sebelumnya membebani dirinya.
Kepindahan Acosta ke tim pabrikan Ducati pada 2027 akan menghadirkan tantangan tersendiri. Ia akan berbagi garasi dengan Marc Marquez, juara dunia tujuh kali di kelas utama, yang memiliki pengalaman panjang dalam mengembangkan motor dan menghadapi persaingan kejuaraan.
Kehadiran Marquez juga memberikan kesempatan bagi Acosta untuk mempelajari cara kerja salah satu rider paling berpengalaman di MotoGP. Acosta menyadari bahwa dirinya masih harus beradaptasi dengan sistem kerja Ducati setelah menghabiskan sekitar enam tahun bersama KTM.
Ia mengatakan bahwa prioritas awalnya adalah memahami cara tim Ducati beroperasi. Setelah itu, ia ingin mempelajari berbagai hal dari Marquez secara bertahap.
Bagi Acosta, periode dua tahun mendatang menjadi kesempatan penting untuk menyerap pengalaman dari Marquez sebelum sang juara dunia mengakhiri kariernya. Ia melihat kesempatan tersebut sebagai salah satu peluang terakhir bagi rider muda untuk belajar secara langsung dari pembalap berpengalaman itu sebelum pensiun.
Meski demikian, Acosta tidak menempatkan proses adaptasi sebagai sesuatu yang bisa diselesaikan dalam waktu singkat. Perbedaan karakter motor, pendekatan teknis, komunikasi dengan kru, serta metode pengembangan kendaraan akan menjadi beberapa aspek yang harus dipahaminya.
Pengalaman bersama KTM dapat menjadi modal awal, tetapi ia tetap harus membangun pemahaman baru mengenai karakter motor Ducati dan cara tim pabrikan tersebut bekerja.
Kisah Acosta menunjukkan bahwa menentukan waktu yang tepat untuk pindah tim dapat menjadi bagian penting dalam perjalanan seorang rider MotoGP. Kesempatan bergabung dengan tim yang kompetitif memang menarik, tetapi keputusan tersebut juga perlu mempertimbangkan kondisi performa dan kesiapan menghadapi perubahan.
Dalam kasus Acosta, bertahan di KTM memberinya kesempatan untuk melewati masa sulit dan kembali meraih hasil positif sebelum memasuki lingkungan baru. Ia tidak menyatakan bahwa Ducati merupakan pilihan yang buruk pada 2026, melainkan merasa dirinya belum siap memanfaatkan kesempatan tersebut secara maksimal.
Kini, tantangan berikutnya adalah membuktikan bahwa keputusannya bergabung dengan Ducati pada 2027 dapat membantunya berkembang lebih jauh. Persaingan internal dengan Marquez juga akan menjadi bagian menarik dari perjalanan tersebut.
Pedro Acosta mengungkap bahwa rasa frustrasi yang dialaminya bersama KTM menjadi salah satu alasan dirinya merasa belum siap bergabung dengan VR46 Ducati pada 2026. Ia memilih bertahan, melewati masa sulit, dan mulai mendapatkan hasil yang lebih baik sebelum menerima tantangan bersama tim pabrikan Ducati pada 2027.
Langkah tersebut menegaskan bahwa perkembangan seorang rider tidak hanya ditentukan oleh motor yang digunakan. Kesiapan menghadapi tekanan, konsistensi performa, dan kemampuan beradaptasi dengan lingkungan baru juga berperan penting. Bersama Ducati dan Marc Marquez, Acosta akan memiliki kesempatan untuk membuktikan kemampuannya sekaligus menambah pengalaman dalam persaingan MotoGP.
Crash.net, “Pedro Acosta Makes Surprise Ducati Claim Ahead of 2027 MotoGP Switch”
Network:
FinNews.id |
Radarpena.co.id |
IKNPos.id
PT.Portal Indonesia Media