Sebelum laga Arema vs Persik digelar, sebuah insiden terjadi: kaca bus Persik Kediri dilempar batu. Aksi ini bukan hanya merusak properti, tapi juga menghancurkan harapan bahwa sepak bola Indonesia bisa berubah.
Siapa pelakunya? Belum ada kepastian. Tapi saya yakin, dalam waktu dekat akan ada "tersangka" yang diumumkan. Sebab, menangkap perusuh kantor saja bisa cepat, apalagi kasus seperti ini?
Aremania Terpecah, Kekuasaan Tertawa
Suara "bubarkan Arema" terdengar di mana-mana. Tapi, Arema bukan sekadar klub bagi Malang. Ia adalah identitas, kebanggaan, dan darah yang mengalir di setiap arek-arek Malang.
Sayangnya, tragedi ini malah memecah Aremania. Ada yang disebut loyalis, ada yang dicap pembenci. Padahal, seharusnya kita bersatu untuk menuntut keadilan.
Kita harusnya jadi yang paling vokal menuntut:
-
Pengakuan kesalahan dari negara dan stakeholder terkait .
-
Hukuman setimpal untuk semua pihak yang bersalah .
-
Jaminan bahwa Kanjuruhan adalah tragedi terakhir di sepak bola Indonesia .
Tanpa itu, bernyanyi di tribun sementara hak korban belum terpenuhi terasa seperti pengkhianatan.
Kita Tidak Pernah Belajar
Hampir 1.000 hari berlalu, tapi apakah kita lebih baik? Rekonstruksi dipindah ke Surabaya, alih-alih di TKP. Hukuman tak sebanding dengan nyawa yang hilang. Dan sekarang, sebuah batu membuat kita lupa pada korban.
Baca Juga
Mungkin benar kata mereka: "Tentang Tragedi Kanjuruhan, kita belajar untuk tidak belajar."
Arema vs Persik bukan sekadar laga. Ia adalah pengingat bahwa duka itu masih nyata, dan keadilan masih jadi angan-angan.
Sampai kapan?