“Kami berkomitmen untuk menggunakan kekuatan sepak bola untuk menyatukan masyarakat di dunia yang terpecah belah,” kata Infantino dalam pertemuan Dewan FIFA pada 2 Oktober 2025, dikutip dari BBC.
Pernyataan ini sontak memantik reaksi keras. Banyak pihak menilai Infantino hanya mencari alasan politik untuk menghindari tekanan diplomatik dari negara besar.
'Israel Menikmati Impunitas Global'
Profesor sejarah di Universitas Georgetown Qatar, Abdullah Al-Arian, menyebut sikap FIFA terhadap Israel mencerminkan impunitas total yang telah dinikmati negara itu selama puluhan tahun.
Baca Juga
“Badan-badan olahraga sering kali mencerminkan politik kekuasaan global. Mereka hanya mengikuti pola umum, di mana Israel tidak dimintai pertanggungjawaban,” ujarnya.
Menurut Al-Arian, Amerika Serikat memiliki pengaruh besar di balik keputusan FIFA.
Apalagi, AS merupakan tuan rumah bersama Piala Dunia 2026 bersama Meksiko dan Kanada.
Baca Juga
Ia bahkan menyebut hubungan erat antara Presiden AS Donald Trump dan Gianni Infantino turut memperkuat posisi Israel di dunia olahraga.
“Setiap kali ada wacana sanksi terhadap Israel, Amerika langsung bereaksi keras. Mereka menekan badan olahraga agar tidak mengambil langkah itu,” tambahnya.
Gelombang Seruan Boikot Semakin Besar
Meningkatnya korban sipil di Gaza membuat gelombang protes terhadap Israel juga merambah dunia olahraga.
Banyak yang menilai FIFA bersikap hipokrit karena menerapkan standar berbeda untuk dua kasus yang serupa Rusia disanksi, Israel tidak.