Salah satu suara keras datang dari Menteri Olahraga Spanyol, Pilar Alegría.
Ia secara terbuka menyebut bahwa Israel seharusnya mendapat perlakuan sama seperti Rusia.
“(Israel) telah membunuh lebih dari 60.000 orang, termasuk anak-anak. Sulit memahami mengapa ada standar ganda. Dunia olahraga seharusnya bersikap setegas saat menghadapi Rusia,” tegasnya.
Bukan hanya pejabat, tokoh sepak bola legendaris seperti Eric Cantona, mantan kapten timnas Prancis dan Manchester United, juga menyuarakan hal serupa.
Baca Juga
“FIFA dan UEFA harus menangguhkan pertandingan melawan Israel. Klub-klub di mana pun harus menolak bermain melawan tim Israel,” ujarnya dalam acara penggalangan dana untuk Palestina di London.
Aksi Boikot dari Suporter Dunia
Dukungan untuk Palestina kini meluas hingga ke tribun stadion.
Baca Juga
Di berbagai negara Eropa dan Timur Tengah, ribuan suporter menggelar aksi diam, membentangkan spanduk, hingga menghentikan pertandingan sebagai bentuk protes terhadap Israel.
Di Skotlandia, fans Celtic terkenal dengan aksi solidaritasnya, membentangkan bendera Palestina di laga Liga Europa.
Di Inggris, beberapa laga bahkan sempat tertunda karena invasi lapangan oleh penggemar pro-Palestina yang menolak tim Israel bertanding.
Gerakan ini menandakan bahwa isu Palestina bukan lagi sekadar urusan politik, tapi juga moral global.
FIFA di Persimpangan Dilema
Sikap FIFA yang tetap mengizinkan Israel bermain menempatkan organisasi itu di tengah pusaran dilema moral dan politik. Di satu sisi, mereka ingin menjaga prinsip “netralitas olahraga”.