Sikap tenang itu juga dipengaruhi oleh kondisinya sendiri. Ia mengakui bahunya belum sepenuhnya pulih, sehingga memilih strategi konservatif di awal balapan.
“Saya sangat tenang di awal. Saya tahu ini akan menjadi balapan panjang untuk ban dan kondisi fisik saya,” katanya.
Ketika 10 lap tersisa, ia mulai meningkatkan agresivitas dan mendekati rombongan perebut podium sebelum insiden teknis menghentikan lajunya.
“Hari ini kami dapat nol poin, tapi yang paling penting levelnya ada,” ucapnya optimistis.
Ducati Akui Masih Mencari Jawaban
Bos Ducati, Davide Tardozzi, juga mengakui timnya belum memahami sepenuhnya penyebab performa buruk di Buriram. Padahal dalam tes pramusim di sirkuit yang sama, Ducati tampil sangat kompetitif.
Perbedaan kondisi balapan, suhu lintasan, serta karakter ban menjadi faktor yang sedang dianalisis tim teknis. Situasi ini memperlihatkan bahwa musim 2026 tidak akan semudah yang diperkirakan bagi Ducati.
Baca Juga
Aprilia kini tampil sebagai ancaman nyata. Kemenangan dominan di Thailand memberi sinyal bahwa perebutan gelar musim ini akan lebih terbuka.
Awal Musim yang Mengguncang Peta Persaingan
Hasil di Thailand menjadi pengingat bahwa dominasi dalam MotoGP bisa berubah cepat. Rekor panjang Ducati memang berakhir, tetapi musim masih sangat panjang.
Marquez memilih melihat sisi positif dari performanya. Ia yakin kecepatannya kompetitif dan hanya faktor teknis yang menghalangi hasil maksimal.
MotoGP 2026 baru saja dimulai, dan Buriram mungkin hanya menjadi satu bab awal dari persaingan panjang antara Ducati dan Aprilia.
Baca Juga
Referensi:
Crash.net – Marc Marquez insists there’s “no panic” as Ducati’s record podium streak snapped